John Schults adalah seorang missionaris terkemuka dari Christian and Missionary Alliance (C&MA) bersama istrinya Janine. Bapak Pdt. John Schultz mengabdikan 38 tahun sebagai guru sekolah Alkitab di Enagotadi dan Kebo Paniai.
Pdt. John Schults lahir di Kota Haarlem, Belanda pada tahun 1930. John Schults dibesarkan dalam lingkungan gereja Kristen reformasi di Belanda sebelum akhirnya Ia pindah ke Amerika Serikat dan diutus sebagai misionaris Amerika untuk melayani di wilayah papua, dahulu dinamakan Nugini Belanda selama 38 tahun (1957-1995).
Semasa perang Dunia II, Ia dan keluarganya mengalami masa-masa sulit dibawah pendudukan Nazi. Ayahnya bahkan sempat dipenjara oleh Nazi karena membantu menyuplai kartu jatah makanan untuk keluarga Corrie Ten Boom (tokoh Kristen belanda yang menyembunyikan kaum yahudi).
Bapak John Schultz berpendidikan di Belgia. Setelah merasakan panggilan pelayanan, bapak John menempuh pendidikan teologi di Institut Alkitab Brussel di Belgia. Disana dia bertumbuh didalam Kristus dengan istrinya, Jannie yang merupakan keturunan Belgia (dari Wilayah yang berbahasa Perancis).
#Pelayanan Misi di Papua
Missionaris John Schultz bersama istrinya, Jannie dari Christian and Missionary Alliance memiliki empat orang anak. Ketiga anak tertua mereka lahir dari Enagotadi dan besar di Kebo Paniai Papua. Sedangkan anak bungsu lahir setelah keluarga ini mengambil cuti pelayanan (furlough) pertama. Berikut nama anak-anak bapak John Schultz) dan Ibu Janine adalah sebagai berikut: pertama (1) perempuan bernama Ruthy yang menikah dengan Tim Hall. Kedua (2) adalah John Paul (JP) laki-laki ini menikah dengan Judy Harvey. Ketika (3) bernama Mitchell laki-laki ini menikah dengan Elaine. Kemudian keempat (4) bernama Viviane.
Ia dikenang sebagai pengajar Alkitab yang sangat dihormati dalam berbagai bahasa seperti dalam bahasa Belanda, Inggris, Indonesia (Melayu) maupun bahasa Lokal Paniai (Wissel meren). Dia telah berhasil mencetak ratusan penginjil dari berbagai suku pegunungan hingga wawasannya dapat dinilai produktif.
Selain pelayanan penginjilan fisik, John Schultz sangat dikenal di kalangan teologi karena berhasil menulis buku tafsiran (commentary) lengkap untuk setiap kitab di dalam Alkitab (Kejadian sampai Wahyu) yang kini banyak diakses secara gratis oleh umat Kristen di seluruh dunia.
Bapak John Shultz yang pernah menjadi Kepala sekolah kedua setelah Walter Post untuk Sekolah Teologi Pertama (STP) Kebo ini memiliki banyak kenangan hidup bersama masyarakat lokal di Kebo. Rumah yang pernah tinggal bersama keluarga masih terlihat di Manaipugaiga diawal naik tanjakan sebelum melihat ruang belajar ke arah kanan itu. Dialah yang lebih banyak berbaur dengan masyarakat Kebo ketika bertugas sebagai guru kepala Sekolah setelah Tuan Walter M Post.
Sayangnya, Bapak John Schultz yang sering disapa (kebo tuanii) dikalangan umat ini dipanggil TUHAN pada tanggal 6 November 2023 di Amerika lalu. Berita duka pernah dikirimkan oleh badan pengurus C&MA. Bahkan diterima kabar duka dari anak-anaknya melalui media sosial lalu. Dia meninggal dunia pada usia yang ke 95 tahun. Sebagai pengganti tugas ayah dapat dikembangkan dan dilanjutkan oleh anaknya Mitchell Schultz yang terus menerus warisan Iman mereka. Hingga kini, keluarga besar mereka telah berkembang pesat dan memiliki 16 cucu serta 30 cicit bagi keluarga Tuan John Schultz.
Kelebihan yang diketahui ketika bapak John ketika berada di Kebo Paniai. Dia akrab dengan setiap toko adat, para penatua dan seluruh umat hingga setiap hari menggunakan bahasa Mee Paniai. Dia juga banyak melayani orang sakit melalui pelayanan pengobatan, mengarahkan umat untuk menerima Injil sebelumnya.
Meskipun orangtua kita, John Szuldz (kebo tuani) sudah meninggalkan kita tetapi setiap orang penerus merenungkan setiap perjalanan hidup para Missionaris. Sebab dengan adanya Injil kita akan menjadi warga kerajaan Allah melalui penyebaran Injil diatas negeri yang penuh dengan kekayaan diatas negeri ini.
By: Jachob T Gobai (Refleksi Sosial)




