![]() |
| Cinta Pertama |
Pengertian sederhana tentang perceraian adalah berakhirnya salah satu hubungan keluarga yang harmonis sebelumnya, kini dipengaruhi pada akulturasi budaya. Hal ini dapat terjadi pada saat pasangan sudah tidak ingin lagi melanjutkan kehidupan bersama sebagai suami-istri. Ini berarti adanya pemutusan komitmen, baik secara sepihak maupun secara persetujuan bersama. Biasanya pemutusan ini lebih banyak pada unsur pemaksaan.
Dalam kehidupan kita telah mempelajari bahwa, masyarakat papua yang berdomisili disetiap kota yang hidup dari berbagai sumber nafkah. Masyarakat pribumi yang disebut penghuni yang sudah berkeluarga, kini dipengaruhi pada akulturasi budaya sehingga musim perceraian dan pemisahan dalam keluarga semakin tinggi. Musim perceraian dan pemisahan keluarga ini berawal dari kecemburuan sosial, perselingkuan dalam keluarga tak terbendung dan juga adanya dorongan (nafsu) dari nilai mata uang yang tinggi sehingga hidup dalam rumah tangga tak pernah merasakan aman dan tenang di setiap kota hingga penyakit masih terihat disetiap pelosok (kampung) disana.
![]() |
| Mulai berpisah |
Kebutuhan ekonomi itu bagian dari pemenuhan hidup. Ingat orang kaya dan miskin sama-sama mati pada waktunya tiba tetapi hubungan keluarga tidak mudah dipisahkan hanya karena orientasi harta, kekayaan dan takta yang dikumpulkan selama ini. Perceraian bisa terjadi karena faktor dari jaminan ekonomi didalam rumah tangga. Pendapatan ekonomi yang rendah memenuhi kehidupan keluarga hingga istri menceraikan suami. Begitupun motivasi kekayaan dan harta yang berlimpah bagi setiap suami yang mencari wanita jalanan hingga istri pertama ditinggalkan melalui pemancingan emosi istri hingga tercipta pemisahan keluarga.
![]() |
| Nikah Tak berguna |
Budaya bercerai dan berpisah adalah budaya akulturasi, karena ini bukan budaya para leluhur yang diterapkan pada zaman sebelum masuk pemerintah dan agama di Tanah Papua. Budaya para leluhur sangat terikat pada nilai-nilai kultur sehingga semua orang berpatuh pada budaya anugrah itu.
![]() |
| Keluarga harmonis |
Apakah budaya para leluhur juga diterapkan musim perceraian dan pemisahan keluarga sehingga dapat dipengaruhi pada perkembngan modern saat ini..?
Meskipun kita hidup pada era globalisasi ini, segalanya terpenuhi serba bebas, namun apa pun bentuk jaminan hidup dalam rumah tangga menjadi standar ketidaksesuaian atau ketidakpuasaan. Ketenangan dan kedamaian dalam kehidupan keluarga sudah rapuh dan kurangnya pencerahan rohani menyangkut kehidupan keluarga yang harmonis sehingga hidup seperti pohon benalu yang belum mempunyai akar pada dasarnya.
Kemudian setiap perempuan (istri) juga memiliki obat pelumpuh kekuatan laki-laki (ugupupukai) dalam rumah tangga terus terjadi. "Obat tersebut akan digunakan untuk melemahkan daya berfikir suami, agar suaminya selalu tunduk pada perintah dari istri selama mereka masih hidup di bumi," katanya. Kedua faktor yang ini yang membuat dampak buruk pada keluarga itu sendiri sehingga ujungnya menuju perceraian dan pemisahan tak terhindarkan antara suami dan istri sudah nampak selama ini.
Lebih baiknya, ciptakan kedamaian dan ketenangan hidup dalam keluarga tanpa dipengaruhi pada akulturasi budaya dari lingkungan eksternal agar saling dijaga dan dilindungi dalam keluarga adalah peran penting demi tercipta keluarga yang harmonis. Kita melihat secara nyata tentang keharmonisan hidup dalam keluarga yang kini seakan menjadi wacana sesaat tanpa menerapkan budaya para leluhur sesunggunya. Tingkat kesadaran membangun keluarga tanpa didasari nilai Iman, moral dan budaya tentunya perceraian menjadi keputusan terakhir bagi mereka yang belum memiliki prinsip-prinsip hidup.
Sebagai kepala keluarga (suami) wajib memiliki jiwa kebapaan untuk melindungi dari musim perceraian ini, sebab suami adalah kepala dari segala kepengurusan dalam kehidupan keluarga itu sendiri atau motor pengemudi dalam kehidupan keluarga dari berbagai pengaruh buruk yang seakan hidup dari nafsu duniawi saat ini.
Sebagai kesimpulan, suami dan istri mempunyai tugas dan tanggungjawab masing-masing sambil menjalani proses hidup dibawa kolong langit. Yang terpenting adalah selalu membedakan fungsi dan tugas masing-masing serta mendasari nilai-nilai budaya leluhur pada era saat ini. Dan kita harus mempelajari makna hidup tentang keluarga yang harmonis dari berbagai nasihat dari para leluhur kita. Sesunggunya, manusia diciptakan untuk saling mengasihi dan mempereratkan hubungan keluarga yang erat tanpa dipengaruhi pada era globalisasi yang hidup dalam lumpur-lumpur dosa ini. Jika kita hidup belajar dari budaya para leluhur tentu akan mengantarkan kita pada kebahagiaan dan ketenangan hidup dapat tercipta tanpa dipengatuhi pikiran jahat seperti usaha perceraian yanh bertentangan pada nilai kehidupan benar sementara hidup numpang di bumi ini.
By: Jach T Gobai ( Refleksi Sosial)


.jpeg)


~2.jpeg)
