#Kampung Enagotadi dan Kedatangan Missionaris dari Barat.
Enagotadi adalah tempat keramat atau sakral bagi Suku Mee sebelum menerima Injil. Enagotadi adalah tempat suci yang dipilih TUHAN hingga Missionaris lebih memilih membangun pusat penyebaran injil wilayah pegunungan papua sebelumnya. Tetapi kondisi saat ini, Enagotadi sudah menjadi kota sampah (dosa). Kota ini digambarkan gelap atau terkutuk akibat praktek kejahatan penghuni seperti tempat dilakukan seks bebas, minum mabuk, tempat pembunuhan, tempat praktek suangi terbang, tempat permainan judi, tindakan pencurian, Iri hati, tempat pengkhianatan, dan praktek kemunafikan lainnya.
Penduduk orang asli menerima para missionaris tahun 1939 tetapi dengan hati memelihara dan merawat kebenaran jarang ditemukan, justru kepercayaan tradisi yang lebih menonjol kedalam dunia realitas saat ini. Dengan bibir menyebut TUHAN tetapi dengan hati mempertahankan pusat kebenaran dapat diabaikan dan mengalami krisis kehidupan spiritual secara nyata sejauh ini.
#Dampak Kerusakan/Kehancuran Hingga Pengaruhnya Pengunjung di Kota Enagotadi Paniai.
Terang kebenaran dirusak dan dihancurkan oleh generasi milenial yang dilahirkan pada masa ketergantungan ini. Akibat dari hancurnya kekuatan kebenaran dari sampah-sampah dosa yang dipelihara umat manusia Paniai itu sendiri. Kebiasaan buruk yang menjadi unsur dosa telah menghancurkan kota "Enagotadi" dari kebiasaan praktek minum mabuk, dilakukan perzinahan (seks bebas), tindakan pencurian, kebiasaan bermain judi, pembunuhan dengan cara (iri hati), praktek suangi terbang, mematikan tubuh seseorang menggunakan obat adat (kegoo), praktek pembunuhan sesama anak pribumi melalui praktek pengkhianatan dan lain-lain. Kemudian kebiasaan hidup dengan dengki, cemoohan, fitnahan, ejekan dan iri hati sesama anak negeri juga belum teratasi. Kehidupan orang paniai (mee) hancur dan rusak tanpa mematuhi prinsip-prinsip kebenaran yang diajarkan Missionaris sebelumnya.
Kita mengalami kehidupan kebodohan, kehancuran, kegelapan, ketertinggalan zaman, dan terkutuk tanpa memikirkan jalan kebenaran memulihkan "Enagotadi" sebagai tempat keramat/ sakral yang pernah dibangun sebagai pusat Injil keselamatan sebelumnya.
Sekarang, orang luar datang juga tidak tertarik tinggal lama di Enagotadi karena melihat ada kejahatan (dosa) mulai dari Enagotadi hingga seluruh pelosok Paniai. Mereka lebih memilih hidup lama di daerah Nabire, Jayapura, Intan Jaya, Timika, Puncak, Tolikara, Nduga dan Lembah Baliem. Mana mungkin negeri yang tercemar dosa segera terpulih dalam jangka waktu singkat...?
Karena kebenaran sudah meninggalkan penghuni akibat sampah (dosa) yang belum diatasi dan dibersihkan sejauh ini, tentunya TUHAN sendiri akan datang memisahkan gelap dan terang diantara kita mulai dari jantung Papua itu. Sesungguhnya, Enagotadi sudah menjadi tempat sakral/keramat sejati untuk dijaga, dipagari dan dipulihkan dari praktek kejahatan (dosa) tetapi kondisinya terlihat pusat neraka sekarang.
#Mengapa Missionaris memilih Enagotadi sebagai pusat Injil...?
Para Missionaris (C&MA) lebih dulu injak kaki pertama di daerah Deiyai tetapi mereka mencari kampung "Enagotadi' disana. Kemudian Missionaris Katolik lebih dulu tiba di Daerah Mapiha di Modio tetapi belum puas karena kondisi geografis yang dianggap belum strategis untuk dibuka pusat pelayanan. Semua Missionaris mencari tempat yang berkeramat/sakral hingga Enagotadi menjadi pusat penyebaran injil (kebenaran), entah para missionaris C&MA maupun Katolik Roma sebelum memulai pelayanan penyebaran agama di wilayah pegunungan Papua sebelumnya.
Enagotadi adalah tempat induk kebenaran dan cahayanya memancar ke timur, utara, selatan, dan barat. Tongkat kemerdekaan jasmani dan spiritual milik bangsa papua dititipkan dengan adanya simbol Kayu Salib di Enagotadi jauh sebelumnya. Tetapi simbol kayu salib yang pernah ditanaman belum ketahui sejauh ini. Apakah simbol salib yang pernah menuntun para Missionaris dari Barat menuju Enagotadi masih dipagari, dijaga ataupun terlihat kosong kita tidak tahu selama ini.
Kemudian sebagai tanda setiap pohon kayu "ugaa" juga banyak terdapat di Enagotadi sebelumnya. Jenis pohon "ugaa" tidak pernah ada tempat lain, kecuali ada di Enagotadi dan tempat-tempat tertentu di sekitaran Paniai. Mungkin kayu jenis "ugaa" dapat disebut sebagai tongkat pembebasan bangsa. Dan tongkat ini akan diberikan kepada siapapun yang hidup kudus dan benar pada kondisi penantian ini tetapi masih membutuhkan pertobatan, pemulihan diri, keluarga dan sesama terlebih dahulu.
#Kekuasaan Allah dan Iblis Mengintai Penghuni di Enagotadi Paniai.
Diketahui "Enagotadi" terdapat ada dua kekuasaan yang diintai bersama setiap umat manusia terutama masyarakat penghuni yakni kekuasaan Allah (ugatame) dan kekuasaan Iblis (Tegee). Kedua kekuasaan ini senantiasa bersama umat, mulai dari awal terjadinya "Enagotadi" tempat keramat/sakral hingga akhir zaman. Ketika penghuni jatuh dalam berbagai praktek dosa oleh karena diprakarsai Iblis yang membawa umat kedalam kejahatan, maka kekuatan Allah yang dianggap sakral dan suci terhilang sendirinya. Begitupun orang yang memiliki kebenaran juga masih dilindungi dan diselamatkan oleh TUHAN bagi umat yang bermukim di kota Enagotadi. Kekuasaan Allah dan Iblis saling bersaing untuk merebut kehidupan kekal, mulai dari "Enagotadi" sebagai pusat keramat/sakral di Tanah Papua itu.
Sebagai tanda, sepanjang gunung "ugii" biasanya terdapat mahkluk halus yang disebut "ugiyogo". Setiap orang kadang dicobai dari makhluk halus itu ketika seseorang memasuki fase pengujian dan pencobaan. Kita tidak tahu, makhluk halus "ugiyogo" itu disebut penjahat atau pelindung terhadap penghuni. Karena kenyataannya, kita tidak terluput dari kekuasaan Allah dan Iblis selama ini. Dimana "Enagotadi" sebagai pusat keberadaan makhluk halus ("ugiyogo") yang menjadi penjaga dan pelindung untuk tongkat pembebasan yang dititip itu.
#Akibat Pelanggaran Penghuni Mati Cepat Atas Perbuatan-Nya.
Setiap orang yang melakukan perbuatan dosa dari Enagotadi mereka cepat mati karena segala pelindung dan penjaga tidak senang menerima segala praktek kejahatan dosa seperti diuraikan sebelumnya. Sebab "Enagotadi" adalah tempat keramat/sakral yang menjadi pusat kebaikan dan kejahatan. Pusat terang maupun gelap, kehidupan manis ataupun pahit. Itulah sebabnya, kekuatan TUHAN dan IBLIS senantiasa mengintai setiap penghuni di Enagotadi Paniai.
#Solusi dan Pemulihan Total
Ada waktu yang diberikan TUHAN bagi kita untuk bertobat dan memulihkan daerah tercinta, terlebih khusus kota "Enagotadi" yang menjadi pusat pelayanan Injil itu. Itulah sebabnya, tidak ada waktu bagi generasi penerus, diajak segera tinggalkan dosa, dilakukan pemulihan diri dan sesama melalui pertobatan total. Mulai dari "Enagotadi" sebagai tempat keramat/sakral untuk memperoleh tongkat pembebasan dunia sambil menanti negeri yang kekal (surga) itu.
By: Jachob T Gobai / Refleksi Sosial🌿🍃






