Setiap laki-laki dilahirkan dari setiap kaum perempuan. Laki-laki bukan jagoan, pemberani dan atau tidak mengenal kematian. Tetapi sunggunya, setiap kaum laki-laki bisa meninggal cepat bila hidupnya tidak terluput dari pelanggaran, dibandingkan kaum perempuan. Karena secara pemahaman alami, setiap laki-laki dilahirkan dari setiap kaum perempuan tentu memiliki kelemahan meskipun tenaga ekstra dimiliki setiap orang pada fisiknya.
Setiap laki-laki dinasihati orangtua tentang "jangan berzina" tetapi hawa nafsu membuat banyak laki-laki papua gugur akibat seks bebas. Mungkin secara teori medis, faktor hormon setiap laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan soal hawa nafsu hingga harkat dan martabat laki-laki diperhadapkan dengan tindakan kebobolan moral terkadang diketahui didalam ruang terbuka.
Kaget dengan nilai uang rupiah yang dimiliki oleh banyak pejabat, pengusaha, kepala kampung dan lain-lain mencari kesenangan juga sering ditangkap dan didapati. Dimana uang menjadi alat tawar terhadap setiap kaum perempuan secara perbuatan liar. Pikiran dan perasaan kotor yang timbul dari hati dapat merusak kehidupan benar setiap orang diatas negeri ini. Kemudian laki-laki muda dengan kesenangan bebas membangun hubungan pacaran tetapi bukan untuk saling menjaga kekudusan dan kemurnian hidup sampai menikah. Justru menjatuhkan harga diri perempuan melalui hubungan kontak fisik (seks) yang bukan menjadi praktek budaya bangsa juga terlihat di mana-mana.
Perkembangan teknologi semakin canggih, hingga setiap laki-laki yang belum cukup dengan pemamahan dasar terkait larangan nilai budaya bangsa hingga berusaha merusak harga diri perempuan melalui media sosial juga semakin tinggi. Dimana setiap perempuan ditarik laki-laki dengan menggunakan media sosial hingga berujung pada kesenangan seks bebas tak terpungkuri. Media sosial yang digunakan untuk berbagi pemahaman dan pengetahuan dasar agar kita hidup sesuai nilai Iman, moral dan budaya semestinya.
Secara biologis, seks sangat dibutuhkan antara kedua lawan jenis (laki-laki dan perempuan) tetapi tindakan yang salah dan melanggar nilai budaya bangsa tentunya ada resiko kematian setiap oknum. Dan kehidupan sering menimbulkan keresahan, kehancuran, rumah tangga berantakan bertubi-tubi sampai kematian menghampirinya. Seharusnya, layak untuk menerima berhubungan badan (seks) adalah mereka yang sudah menikah secara terbuka bagi setiap laki-laki maupun perempuan diatas tanah papua.
Orang yang terbiasa dengan seks bebas khususnya setiap laki-laki papua tentunya akan mengalami masalah tertentu seperti gangguan sperma abnormal (encer) hingga istri sulit membuahi anak dalam rumah tangga akibat seks bebas yang diterima pada masa muda. Bahkan laki-laki tidak memiliki keturunan untuk mewarisi pertumbuhan penduduk orang asli papua. Kesalahannya, setiap laki-laki yang belum sadar ketika hidup sebagai bujang melakukan tindakan seks lebih banyak hingga diketahui tidak mampu mendapatkan anak sendiri.
Belum lagi, amarah TUHAN menimpa atas tindakan seks bebas pada masa muda hingga hidup termurkah sampai mati. Kebiasaan buruk itu, menghancurkan pertumbuhan penduduk orang asli. Lain cerita dengan banyak laki-laki meninggal cepat karena keracunan dalam makanan dan minuman pada zaman ini.
Di dalam kalangan sesama, seringkali seseorang menyebut dirinya jagoan (wiyai), pemberani (rambo), dan tidak takut mati sambil pukul dada. Itu biasanya diucapkan kebanyakan laki-laki papua. Tetapi sayangnya, ketika hidup bertemu dengan perempuan segala daya runtuh, motivasi jagoan direndahkan dan memaksakan perempuan untuk dilakukan berhubungan badan tanpa menjaga dirinya dari penyakit seks bebas itu. Disitulah laki-laki papua yang jagoan mencari ruang kematian dengan pilihannya sendiri.
Sebagai kesimpulan dan saran, setiap laki-laki memerlukan pembinahan nilai Iman, moral dan budaya untuk menghindari perbuatan jahat yang memperpendek tahun umur setiap orang terlebih khusus kaum laki-laki. Dan teruslah hidup berhati-hati tanpa tergoda kedalam larangan "jangan berzina" untuk selamatkan generasi penerus menjadi tindakan kewajiban secara kolektif agar pertumbuhan penduduk dapat terperlihara terhadap generasi baru. Dan kita dilahirkan menyelamatkan generasi baru yang menjadi bunga bangsa diatas diatas Tanah Papua ini.
By: Jachob T Gobay (Refleksi Sosial)






