Headlines News :

.

.
Home » , , , » Jaga dan Pelihara Hubungan Satu Leluhur

Jaga dan Pelihara Hubungan Satu Leluhur

Written By Aweida Papua on Minggu, 22 Februari 2026 | 20.37

Generasi Penerus Mee

Jaga dan Pelihara Hubungan Satu Leluhur

Hubungan persaudaraan akan lebih erat dan tidak dapat dipisahkan ketika setiap orang menggali asal usul sesama garis keturunan marga dan klan yang menjadi satu kesamaan dalam suatu tindakan maupun pengambilan keputusan. 

Sebelumnnya, setiap suku dan bangsa pernah hidup dari garis keturunan yang sama dan dapat diklasifikasik menurut sesama marga dan klan. Dan setiap generasi turun temurun diajarkan tentang nasihat hidup dan cerita sejarah kehidupan suatu marga dan klan supaya generasi penerus akan hidup dari larangan hukum adat sebagai pelajaran tersendiri. 

Disini kita belajar dan mengetahui tentang tidak bisa kawin diantara beberapa klan dan marga yang sudah diklasifikasikan menurut asal usul budaya nenek moyang orang Paniai dapat diketahui dibawa ini:

1. Pertama Kelompok "Makituma"yang terdiri dari marga Kayame, Muyapa, Nawipa, Kadepa, Yatipai, Bunai, Keiya, Madai, Tekege, Pigai dan lain-lain. Mereka disebut MAKITUMA yang berasal dari tanah dan tidak dapat melanggar nilai budaya bangsa termasuk tidak boleh kawin yang diajarkan oleh orangtua mereka menjadi bahan pertimbangan bagi sesama garis keturunan. 

2. Kelompok Kedua "Yinatuma Umagi" yang terdiri dari beberapa marga yang diantaranya Gobai, Tebai, Kudiai, Pekei dan lain-lain. Asal usul mereka berasal dari sarang laba-laba yang diketahui di Paniai, Deiyai, dan Dogiyai disana. Mereka diajarkan dan dinasihati tentang hukum larangan dan pengetahuan agar hubungan persaudaraan sesama klan dan marga dapat dipelihara tanpa melanggar hukum adat mereka. 

3. Kelompok yang ketiga "Yinatuma Eguwai". Kelompok marga ini berasal dari ular pelangi yang terdiri dari beberapa marga diantaranya: Degey, Mote, Yumai, Edowai, Yukei dan lain-lain. Mereka taat dengan nilai budaya bangsa termasuk larangan hukum  diwarisi agar setiap marga dan klan yang berasal dari keturunan ular pelangi (eguwai) dapat menuruti nasihat hidup mereka para leluhur. 

4. Kelompok Yang Keempat "Wodapa" yang terdiri dari beberapa marga sebagai berikut: Yeimo, Tenouye, Yogi, Nakapa, Magai, Kedepa, dan lain-lain. Marga yang berasal dari keturunan kuskus juga mereka diajarkan larangan hukum budaya termasuk tidak boleh kawin silang sesama "wodapa" dengan tujuan selamatkan generasi penerus dari bahaya pelanggaran hukum yang ditaati mereka. 

Generasi Koteka
5. Kelompok yang kelima "Mogopia" yang terdiri dari beberapa marga sebagai berikut: Pigome, Utii, Tatogo, dan Boma  dan lain-lain. Mereka berasal dari keturunan batu yang muncul di Paniai bagian barat. Mereka dibentuk untuk mentaati larangan hukum yang dianggap pamali sesama marga dan klan guna menyelamatkan generasi penerus kemudian hari. 

Sesuai dengan pembagian asal usul marga dan klan diatas ini dapat diketahui generasi penerus terkini lebih khususnya suku MEE yang berasal dari wilayah Meeuwo demi menjaga asal usul nilai budaya bangsa. Dari satu garis keturunan tidak diperbolehkan kawin silang seperti diuraikan diatas misalnya, Gobay dengan Pekei,  Nawipa dengan Kayame, Pigai dengan Bunai, Boma dengan Pigome dan lainnya sangat berpamali. Kawin silang dianggap melanggar nilai budaya bangsa hingga pelaku dapat dibunuh mati sesuai ketetapan nilai budaya kita sebelumnya. Kawin sesama satu garis keturunan tidak diperbolehkan dan dianggap pelanggaran terhadap satu garis keturunan tentu akan mengalami murkah dan berumur pendek. 

Missionaris
Meskipun kehadiran agama memberikan pengertian tentang kebenaran sesuai konteks alkitabiah yang berasal dari budaya YAHUDI seperti Nabi Abraham yang memiliki istrinya sarah dari anaknya Naor. Atau Lot yang terpaksa kawin dengan kedua anaknya setelah Lut menjadi tiang garam di sodom dan gomora disana. Mereka bersaudara dari satu garis keturunan tetapi banyak bertentangan dengan nilai budaya bangsa kita. Injil kebenaran disesuaikan dengan nilai budaya bangsa dapat diperlukan demi proses berumur panjang. Dan praktek nilai budaya dapat diwariskan sesuai klasifikasi klan dan marga para leluhur kita selama hidup diantara sesama. 

Sangat tidak bisa hubungan pernikahan atau perkawinan diantara satu garis keturunan. Nilai-nilai budaya bangsa dapat diakui dan dihargai sebagai anugrah pemberian TUHAN bagi masing-masing keturunan didalam kehidupan sosial.

Amougi ke Timida
Larangan dan pantangan itu wajib dipatuhi setiap generasi meskipun kita tidak pernah dinasihati orangtua atau kita dilahirkan dari Kota sekalipun. Jangan pernah bertindak sembarang seperti tabrak tembok tanpa membedakan asal usulnya demi kelangsungan hidup bangsa terutama menjaga klan dan marga itu sendiri. Apa lagi sesama marga atau fam berusaha menjalin hubungan percintaan tanpa dipatuhi hubungan pertalian yang erat sebagai nilai budaya bangsa kita sebelumnya. 

Dapat disimpulkan bahwa generasi wajib membedakan dan memahami nilai budaya terutama larangan dan ketaatan pada praktek nilai budaya bangsa dapat diperjuangkan sambil menjalani kehidupan diatas prinsip keadilan dalam pengambilan keputusan. Perubahan hidup ini dapat disesuaikan dengan nilai budaya bangsa sambil mengakui dan menghargai identitas kita sesuai kebutuhan percintaan sesama suku.

By: Jach T Gobai / Pecinta Alam🌿🍃


Sumber : Aweida Papua

Share this article :

.

.

HOLY SPIRITS

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

TRANSLATE

VISITORS

Flag Counter

MELANESIA IS FASIFIC

MELANESIA IS FASIFIC

MUSIC

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD
 
Support : AWEIDA Website | AWEIDANEWS | GEEBADO
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2015. Aweida Papua - All Rights Reserved
Template Design by AWEIDA Website Published by ADMIN AWEIDA