![]() |
| Nikah Kudus |
Kita bicara soal kudus dan suci pasti semua orang tidak pernah bebas dari pelanggaran dan dosa, entah dosa yang dilakukan secara batin maupun perbuatan nyata. Kudus yang dimaksud TUHAN mungkin seseorang yang hidup benar menurut kehendaknya. Kaitannya dengan pernikahan kudus dan suci seperti hal tertentu yang menjaga dirinya dari perbuatan sex diluar pernikahan sebelum kawin.
Kebijakan agama menetapkan nikah kudus bagi mereka yang tidak pernah noda secara tindakan daging selama hidup mereka sampai nikah. Dan biasanya dilakukan nikah kudus bagi kedua mempelai yang dipersiapkan calon suami dan istri setelah menerima katekisasi dari pemimpin gembala sidang. Meskipun dosa keinginan pikiran dan perasaan tidak pernah bebas dan terluput. Ataupun pasangan calon suami dan istri mempunyai dosa seperti keinginan, kesombongan, kemarahan, kebencian dan dosa lainnya tetapi yang dimaksudkan adalah pernikahan kudus/suci yang telah menjaga harga dirinya soal berhubungan badan (seks) yang dilarang Allah pada masa muda hingga diakhiri dengan proses pernikahan kudus menjadi ketetapan Allah terhadap umat ciptaanya.
Sementara nikah diartikan sebagai hubungan kasih/cinta yang dibangun seseorang kepada calon pasangan hidupnya sehingga acara pernikahan kudus dilakukan sebagai tanda pengakuan kepada Allah, manusia dan segala makhluk disaksikan dibawa kolong langit. Asalkan kedua calon pasangan bercerita dengan jujur dan terbuka tanpa dirahasiakan berdua, kepada orangtua mereka, pengakuan dihadapan pastor yang memimpin upacara pernikahan kudus/suci itu. Bahkan kesucian hidup mereka akan berdampak suskes dan berkenan TUHAN sebelum mengalami perubahan-perubahan hidup mereka.
Sesuai dengan praktek budaya bangsa juga setiap orang yang masih status bujang dilarang melakukan berhubungan badan sampai ada pengakuan dan dukungan dari orangtua mereka. Mereka harus dipastikan semua pihak dapat diterima dan tidak berkeberatan menuju perkawinan para calon suami maupun istri. Soal berhubungan badan (seks) dapat diperbolehkan setelah terikat dengan harta maskawin supaya hidup didalam rumah tangga lebih bahagia dan damai kemudian hari. Praktek kebiasaan para leluhur sangat berkaitan dengan nikah kudus yang disyaratkan dari setiap denominasi gereja dimana-mana. Karena nikah kudus yang diterima akan merasakan buah keinginan yang dilarang Allah setelah adanya pengakuan dan penghormatan dihadapan-Nya.
Sangat jarang kita yang disebut anak-anak pendeta dan gembala (APG) dilakukan nikah kudus menggunakan pakaian PUTIH ketemu PUTIH di Gereja. Lebih banyak nikah kudus/suci dilakukan para anak-anak kalangan umat biasa, sementara anak-anak APG yang dilahirkan dari pembinahan Iman dari orangtua belum terlihat pernikahan kudus itu. Bahkan nikah dilakukan dari rumah sebagai bentuk pemberkatan saja.
Sebagian orang dilakukan nikah dari gereja tetapi masih terlihat menggenakan pakaian HITAM PUTIH artinya telah berhubungan badan bersama calon pasangannya ataupun tergoda berhubungan badan dengan orang lain jauh sebelumnya.
Semua orang berharap akan melakukan nikah kudus atau suci tetapi terkadang jodoh yang direstu bertentangan pada kehendak TUHAN. Sebab jodoh yang dinikahi adalah pemberian TUHAN sendiri bukan ditentukan dari rencana dan harapan kita. Secara pikiran kita akan menikah bersama mereka yang belum ternoda tetapi jodoh menyatakan lain kita menerima kenyataan dengan jiwa besar hingga dilakukan pernikahan dengan pakaian Hitam Putih dihadapan umat.
Intinya, nikah model apapun bentuknya dapat berkenan TUHAN tanpa mengenal dosa semestinya, sebab mereka yang akan masuk surga adalah setiap pribadi yang selalu membangun hubungan KASIH didalam kebenaran untuk menyatakan pernikahan/perkawinan kudus bersama Allah, meskipun gagal melakukan pernikahan kudus menggenakan pakaian PUTIH bertemu PUTIH didalam kehidupan nyata di dunia ini.
By: Jachob T Gobai (Pecinta Alam🌿🍃)
Disposkan: Aweida Papua



