Headlines News :

.

.
Home » , , , , » Perlukah Hidup Bebas Dari Jaminan Ketergantungan Ekonomi diatas Tanah Papua......?

Perlukah Hidup Bebas Dari Jaminan Ketergantungan Ekonomi diatas Tanah Papua......?

Written By Aweida Papua on Sabtu, 03 Oktober 2026 | 10.40

Perlukah Hidup Bebas Dari Jaminan Ketergantungan Ekonomi diatas Tanah Papua....? 

Ekonomi berbicara tentang kehidupan manusia. Manusia hidup tanpa kebutuhan ekonomi tidak dapat hidup mandiri. Ibaratnya, satu unit komputer dilengkapi dengan sistemnya tetapi salah satu alatnya rusak diantara semua komponen tidak dapat beroperasi dan tidak dapat hidup kembali. Begitu pun dalam kehidupan ekonomi dalam rumah tangga maupun perdagangan antara negara. Bahwa kemerdekaan suatu bangsa juga ditentukan dari peran ekonomi mikro, skala kecil dan menengah akan berdampak signifikan bagi setiap orang. Didang pengembangan ekonomi yang berbicara tentang kebutuhan hidup manusia dapat dipertahankan dan dilestarikan sebagimana dibiasakan orangtua para leluhur kita. 

Orang papua itu cerdas, pintar, ulet dan mampu mengelola segala sumber daya yang ada didalam lingkungan sekitarnya. Dari nenek moyang secara turun temurun jaminan hidup sangat tergantung sumber alami dari bumi papua. Itu kebiasaan hidup mandiri dari praktek nyata bagi segenap bangsa papua sebelumnya. Namun setelah berjalannya waktu, orang papua hidup sangat tergantung mulai dari papua dipaksa masuk didalam negara Indonesia hingga terkini. 

Orang papua belum bisa lawan budaya malas kerja membuat banyak orang bisa hidup dari ketergatungan. Budaya malas menjadi kebiasaan bagi sekelompok orang papua selama ini. Seakan budaya tidak sehat, malas bekerja ini menurunkan derajat manusia. Budaya malas kerja mampu mengisap seluruh energi dan menyita waktu kedalam praktek penyakit sosial yang leluasa diatas Tanah ini.

Sebagai seorang ekonom masih bertanya-tanya untuk ingin mengetahui jumlah orang papua yang sukses dari pengembangan Ekonomi Mikro dalam rumah tangga maupun makro secara skala dunia untuk memberi dampak kesejahteraan mandiri bagi bangsa papua diatas Tanah Papua.

Justru kenyatanyaannya masyarakat papua menjadi penonton setia dan budak-budak konsumtif ditengah keterpurukan dan kemiskinan dalam kehidupan ekonomi mulai dari pengembangan wirausaha setiap orang papua. 

Dari sisi pengembangan dan revitalisasi ekonomi mikro saja sangat tergantung dari sumber dana otonomi kasus dan bantuan sosial lainnya dari pemerintah daerah. Tidak seorangpun pribumi yang berpikir untuk selamatkan manusia dan Tanah Papua dari ancaman global. Dengan adanya pasar bebas dan terbuka ekonomi persaingan sangat bertumbuh pesat dimana-mana pada masa kini diatas tanah papua. 

Dengan adanya perjuangan ekonomi mandiri dari masyarakat pribumi dapat dipikirkan dan diciptakan ekonomi mandiri dalam rumah tangga hingga konteks bangsa dipikirkan semestinya. Namun kekuasaan  hegemoni kapitalisme dan oligarki membatasi hak kemandirian ekonomi hingga diketahui krisis kemiskinan dari kebutuhan skala mikro seringkali dihadapi orang papua diatas negeri mereka. Masyarakat masih hidup sangat tergantung jaminan dan bantuan pemerintah tanpa berpikir sehat menghidupkan ketahanan bangsa melalui peran ekonomi mandiri. 

Orang papua yang punya energi untuk bekerja, berkebun, bertani, nelayang, meramu dan pelihara ternak semuanya dipertahankan dan dikembangkan tetapi kondisnya seakan menjadi bias konsumtif dari persaingan ekonomi. Disini pedagang migran dari berbagai penjuru datang dominasi termasuk perluasaan ekonomi diatas Tanah Papua. Contoh saja kecil seperti sembako kita masih belanja dari masyarakat pedagang asal luar daerah masih terus terjadi setiap daerah papua. Masyarakat papua belum berhasil memiliki daya juang untuk melawan kompetisi ekomomi global ataupun dari usaha mikro diatas tanah Papua. 

Budaya malas kerja seakan menjadi raja bagi orang papua. Kondisi terkini, masyarkat lebih banyak hidup dari permainan judi, hidup dari sumber darah manusia sampai jaminan bantuan pemerintah dan lain-lain. Tetapi semuanya dapat dialami oleh bangsa terjajah yang mengalami krisis kemiskinan dan ketergantungan para penghuni diatas negeri ini. Kembali berpikir sehat dan mandiri menjadi tugas kita, setiap kepala keluarga yang hendak menghidupkan masing-masing keluarga didalam rumah tangga. 

Apa yang kurang, sementara segala sumber daya sudah terpenuhi dan masih melimpah diatas negeri ini. Yang harus diatasi bersama adalah Budaya malas kerja dari penyakit sosial diatas negeri ini. Hidup berharap tanpa usaha tentu bangsa besar sekalipun runtuh dan hancur hingga termusnah akibat jaminan ketergantungan pada kebijakan kolonial diatas negeri mereka. 

Semoga bangsa papua bukan menjadi budaknya penguasa diatas negeri ini tetapi mampu menghidupkan keluarga dan bangsanya melalui peran ekonomi mikro yang dihasilkan dari kemampuan kerja setiap orang mempengaruhi konteks bangsa di dunia. Sebab keselamatan fisik (tubuh) dapat dipikirkan dari kemampuan berpikir sehat dan produktif sebelum bekerja keras memenuhi kehidupan ekonomi didalam rumah tangga terlebih dahulu. 

By: Jach T Gobai / Refleksi Sosial EkonomiπŸŒΏπŸƒπŸ‡πŸ‹πŸ†πŸ…πŸπŸ₯¦πŸ†πŸπŸŠπŸπŸ§„πŸ₯•πŸŒ½πŸŒΆπŸ«‘πŸŒ°πŸ₯πŸ₯œπŸ₯¬πŸ₯œπŸ₯œπŸ₯œπŸ™πŸ’―

Share this article :

.

.

HOLY SPIRITS

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

TRANSLATE

VISITORS

Flag Counter

MELANESIA IS FASIFIC

MELANESIA IS FASIFIC

MUSIC

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD
 
Support : AWEIDA Website | AWEIDANEWS | GEEBADO
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2015. Aweida Papua - All Rights Reserved
Template Design by AWEIDA Website Published by ADMIN AWEIDA