Headlines News :

.

.
Home » , , , , » Retorika Pembanguan Diatas Lumuran Darah Manusia.

Retorika Pembanguan Diatas Lumuran Darah Manusia.

Written By Aweida Papua on Selasa, 08 September 2026 | 22.22

Retorika Pembanguan Diatas Lumuran Darah Manusia. 

#Pemahaman Umum 

Hidup manusia tidak terhindar dari retorika pembangunan diatas lumuran darah. Judul ini juga mengulas tentang muatan narasi yang sangat kuat, tajam, dan kritis. Secara umum, frasa ini merujuk pada situasi dimana proyek kemajuan fisik atau ekonomi berjalan beriringan dengan kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia (HAM), atau penindasan menimpa terhadap masyarakat lokal. 

Disini kita akan mengetahui pemahaman yang logis dan universal sesuai judul "Retorika pembagunan diatas Lumuran Darah" yang menjadi kontradiksi antara kaum elit (oligarki) dan masyarakat lokal yang dialami dapat termuat sebagai berikut:

1. Kekerasan Struktural Demi Stabilitas

Seringkali, demi menarik investasi asing dan melancarkan proyek infrastruktur skala besar, sebuah rezim atau otoritas menggunakan pendekatan keamanan yang refresif. Narasi "stabilitas demi pembangunan" digunakan untuk melegitimasi pembungkaman suara kritis, penggusuran paksa atau operasi militer. 

2. Resim Otoriter Demi Kepentingan Para Oligarki.

Setiap usaha para Oligarki berusaha menekan masyarakat dengan dalil pembangunan nasional. Dan dimana pertumbuhan ekonomi atau stabilitas nasional dicapai dengan cara membungkam kritik, melakukan pembersihan politik atau menyingkirkan masyarakat adat demi proyek strategi nasional. 

3. Marginalisasi Masyarakat Adat dan Lokal. 

Proyek pembangunan seperti pertambangan, bendungan, atau perkebunan skala besar kerap berada di wilayah adat. Ketika masyarakat lokal menolak ruang hidupnya diambil alih, bentrokan berdarah sering kali terjadi, dimana aparat keamanan berhadapan langsung dengan warga yang mempertahankan haknya. 

Disini ada retorika pembangunan yang menjanjikan kesejahteraan, kesejahteraan pertumbuhan ekonomi, kemajuan, peradaban dan masa depan yang lebih baik sesuai rasio kontradiktif  dibalik wacana nasionalisasi. Justru faktanya, Lumurah darah masih bersimba   yang diwarnai oleh bentuk represi, agresi militer, hilangnya nyawa, trauma dan ketidakadilan yang dialami oleh kelompok rentan. 

#Renungan Bangsa Terjajah Yang Hidup dari Retorika Diatas Lumurah Darah. 

Kita adalah manusia boneka yang paksa hidup diatas duri tetapi masih berusaha memajukan daerah diatas lumuran darah manusia yang tidak berdosa yang gugur selama ini. Disitulah mata dan telinga kita diarahkan oleh iblis asal Indonesia supaya menerima tawaran menutupi tindakan pembunuhan di berbagai daerah diatas tanah ini. 

Jumlah pendudukan orang asli papua (oap) sangat terhitung dan semakin minoritas dari bangsa migran yang sementara dikuasai di negeri ini. Intinya, pembangunan untuk siapa sementara orang asli papua sedang menuju kepunahan etnis...? 

Mungkin kita adalah manusia dungu, benalu, dianggap kurang waras, dan sering disebut mental kerupuk. Kita belum memiliki jiwa reaksioner yang memperingatkan segala bentuk penindasan yang dialami. Kita sema sekali tidak memiliki jiwa kemanusiaan ketika melihat rakyat dibantai tetapi masih berdansa dan berdasi untuk membangun indeks pembangunan manusia (IPM) tanpa mempertimbangkan segala resiko yang ada. 

Memang Iblis asal Indonesia kendalikan totalitas hidup kita seluruhnya. Besar kemungkinan  tidak akan tercipta perubahan signifikan, justru dirusak, hancur sampai runtuh totalitas hak hidup dan keselamatan penghuni karena lumuran darah masih mengintai setiap orang yang memaksakan pembangunan tanpa pemulihan. 

Mungkin harapan untuk perubahan hidup bisa kita disimpan kedalam kantong laci sementara waktu karena darah manusia tak berdosa yang gugur masih mengejar kita sampai bangsa itu mati suri tanpa ada peninggalan jasa diatas negeri in. Tidak ada artinya pemanfaatan ketika segala kebijakan dibangun diatas lumuran darah bangsa terjajah diatas negeri ini. 

Kita pikir penguasa daerah punya power untuk membela hak hidup rakyat dan perlindungan terhadap segala ciptaan diatas negeri ini. Tetapi realitasnya, kita dikontrol penguasa (oligarki) pusat yang lebih tinggi. Para oligarki membunuh rakyat kita dan merusak segala alam ciptaannya selama ini. Ingat kita tidak punya power (kekuatan) didalam sistem penjajahan sampai mati termunsnah barulah kita menyesal kemudian hari. Karena itu target penjajah itu mengejar kekuasaan dan kekayaan bukan dengan niat baik membangun tanah papua.

#Kesimpulan

Sesuai judul tentang Retorika pembangunan diatas Lumuran Darah secara garis besar menunjukan bahwa kemajuan fisik yang dicapai dengan cara-cara yang tidak manusiawi adalah bentuk kegagalan moral sebuah bangsa. Pembagunan sejati tidak boleh diukur hanya dari kemegahaan infrastruktur melainkan dari sejauh mana hak-hak dasar manusia dihormati, diselamatkan dan dilindungi dalam proses pembangunan diatas lumuran darah manusia. 


By: Jach T Gobai  (Opini Politik)

Share this article :

.

.

HOLY SPIRITS

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

TRANSLATE

VISITORS

Flag Counter

MELANESIA IS FASIFIC

MELANESIA IS FASIFIC

MUSIC

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD
 
Support : AWEIDA Website | AWEIDANEWS | GEEBADO
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2015. Aweida Papua - All Rights Reserved
Template Design by AWEIDA Website Published by ADMIN AWEIDA