#Pemahaman Umum
Hidup manusia tidak terhindar dari retorika pembangunan diatas lumuran darah. Judul ini juga mengulas tentang muatan narasi yang sangat kuat, tajam, dan kritis. Secara umum, frasa ini merujuk pada situasi dimana proyek kemajuan fisik atau ekonomi berjalan beriringan dengan kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia (HAM), atau penindasan menimpa terhadap masyarakat lokal.
Disini kita akan mengetahui pemahaman yang logis dan universal sesuai judul "Retorika pembagunan diatas Lumuran Darah" yang menjadi kontradiksi antara kaum elit (oligarki) dan masyarakat lokal yang dialami dapat termuat sebagai berikut:
1. Kekerasan Struktural Demi Stabilitas.
Seringkali, demi menarik investasi asing dan melancarkan proyek infrastruktur skala besar, sebuah rezim atau otoritas menggunakan pendekatan keamanan yang refresif. Narasi "stabilitas demi pembangunan" digunakan untuk melegitimasi pembungkaman suara kritis, penggusuran paksa atau operasi militer.
2. Resim Otoriter Demi Kepentingan Para Oligarki.
3. Marginalisasi Masyarakat Adat dan Lokal.
Proyek pembangunan seperti pertambangan, bendungan, atau perkebunan skala besar kerap berada di wilayah adat. Ketika masyarakat lokal menolak ruang hidupnya diambil alih, bentrokan berdarah sering kali terjadi, dimana aparat keamanan berhadapan langsung dengan warga yang mempertahankan haknya.
#Renungan Bangsa Terjajah Yang Hidup dari Retorika Diatas Lumurah Darah.
Kita adalah manusia boneka yang paksa hidup diatas duri tetapi masih berusaha memajukan daerah diatas lumuran darah manusia yang tidak berdosa yang gugur selama ini. Disitulah mata dan telinga kita diarahkan oleh iblis asal Indonesia supaya menerima tawaran menutupi tindakan pembunuhan di berbagai daerah diatas tanah ini.
Mungkin kita adalah manusia dungu, benalu, dianggap kurang waras, dan sering disebut mental kerupuk. Kita belum memiliki jiwa reaksioner yang memperingatkan segala bentuk penindasan yang dialami. Kita sema sekali tidak memiliki jiwa kemanusiaan ketika melihat rakyat dibantai tetapi masih berdansa dan berdasi untuk membangun indeks pembangunan manusia (IPM) tanpa mempertimbangkan segala resiko yang ada.
Mungkin harapan untuk perubahan hidup bisa kita disimpan kedalam kantong laci sementara waktu karena darah manusia tak berdosa yang gugur masih mengejar kita sampai bangsa itu mati suri tanpa ada peninggalan jasa diatas negeri in. Tidak ada artinya pemanfaatan ketika segala kebijakan dibangun diatas lumuran darah bangsa terjajah diatas negeri ini.
#Kesimpulan
Sesuai judul tentang Retorika pembangunan diatas Lumuran Darah secara garis besar menunjukan bahwa kemajuan fisik yang dicapai dengan cara-cara yang tidak manusiawi adalah bentuk kegagalan moral sebuah bangsa. Pembagunan sejati tidak boleh diukur hanya dari kemegahaan infrastruktur melainkan dari sejauh mana hak-hak dasar manusia dihormati, diselamatkan dan dilindungi dalam proses pembangunan diatas lumuran darah manusia.
By: Jach T Gobai (Opini Politik)






