Headlines News :

.

.
Home » , , » Orangtua Bukan Batu Sandungan Terhadap Anak-Nya.

Orangtua Bukan Batu Sandungan Terhadap Anak-Nya.

Written By Aweida Papua on Senin, 13 April 2026 | 11.21

Didiklah Mereka
Orangtua Bukan Batu Sandungan Bagi Generasi Penerus

Banyak orangtua di kalangan kita masih membela anaknya yang paling rusak dan hancur tanpa mendidik anaknya sesuai pembinahan Iman, moral dan budaya kita. Tindakan kelalaian orangtua terhadap anak-anaknya membuat banyak generasi penerus gugur kedalam penyakit sosial. Belum bisa dipastikan berapa jumlah anak-anak generasi penerus gugur akibat penyakit sosial bertumbuh sumber selama ini. 

Belum ada tindakan pembinahan berbasis Iman, Moral dan Budaya hingga kehidupan terlihat hancur total sudah lama diketahui didalam kalangan sesama orang papua. 

Bayi diisi kedalam
Noken adat
Anak kita diketahui minum mabuk, usap rokok, main judi, pengedar narkoba, penciumam lem aibon, dilakukan pencurian dan terlihat seks bebas tetapi orangtua masih menutupi  kebiasaan buruk anak kita hingga berani menghakimi anak orang lain masih terlihat di mana-mana. Tidak pernah ada teguran dan pukulan terhadap anak pribadinya tetapi justru dimanja dengan kata-kata pembelahan yang membunuh jiwa dan raganya. 

Salah satu kelemahan yang sudah diketahui ketika orangtuanya mudah membanggakan anaknya hampir tiap hari tetapi hasil manja anaknya belum sukses hingga terbunuh mati akibat penyakit sosial yang menjadi unsur dosa selama ini. Semestinya, memberi pujian dan kebanggaan ketika anak kita hidup takut akan TUHAN dan selalu menjauhi dari kebiasaan buruk untuk berpikir masa depan dapat dibenarkan. 

Generasi
1940-an
Orangtua adalah kepala dalam rumah tangga yang mampu kendalikan apapun tantangan dan masalah terutama pembinahan anak-anaknya menuju jalan kehidupan dan keselamatan. Katakan kepada anakmu soal jangan mencuri, jangan minum mabuk, jangan merokok, jangan berzina (seks bebas), jangan membunuh, jangan mengingini barang milik orang lain, dan lain-lain. Sebab tanpa pembinahan dari orangtua tentu anak-anaknya bodoh, tidak pintar, hancur, dan terus gugur hanya karena kelalaian pembinahan orantua pada awal pertumbuhan.

Generasi sebelumnya hidup mandiri karena orangtua mendidik mereka sesuai kebutuhan apa adanya tanpa dimanja. Hanya dengan modal nasihat yang bijak mereka dapat memiliki ilmu pengetahuan hingga terbentuk menjadi setiap pribadi yang mandiri. Entah kehidupan fisik maupun rohani mereka kedalam dunia nyata sejauh ini. 

Tuwaiye Owa
Tahun 1990-201
Anak-anak kita dilahirkan dengan kondisi ganteng dan cantik pada awalnya tetapi pembiaraan orangtua tanpa kontrol dan kurangnya pembinahan dasar hingga kematian terus terjadi di Jayapura, Wamena, Enarotali, Timika dan Nabire. Lebih banyak yang sukses menerima pembinahan dari orangtua mungkin anak-anak dari kampung tetapi penyakit sosial sudah memasuki setiap kampung-kampung disana. Tidak dapat membedakan anak-anak kota maupun kampung oleh karena pengaruh sosial terlihat seluruh pelosok. Generasi akan mati terbunuh barulah kita akan sadar bahwa negeri ini diperuntukan bagi bangsa migran. 

Generasi penerus punya harapan masa depan untuk membangun kehidupan baru, asalkan orangtua tidak lalai memberi pemahaman dan pandangan umum terkait larangan nilai Iman, moral dan budaya bangsa. Dengan prinsip radikal terkait larangan dan kepatuhan hidup tentu generasi akan selamat dari cobaan dan godaan kemudian hari. Dengan nasihat bijak dari masing-masing orangtuanya tentu anak-anaknya sukses kemudian hari. Orangtua bukan lagi sebagai batu sandungan untuk harapan hidup anak-anak kita. 

By: Jachob T Gobai / Pecinta Alam 🌿🍃

Share this article :

.

.

HOLY SPIRITS

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

TRANSLATE

VISITORS

Flag Counter

MELANESIA IS FASIFIC

MELANESIA IS FASIFIC

MUSIC

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD
 
Support : AWEIDA Website | AWEIDANEWS | GEEBADO
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2015. Aweida Papua - All Rights Reserved
Template Design by AWEIDA Website Published by ADMIN AWEIDA