![]() |
| Pacaran ditempat Gelap |
A. Wawasan Umum Proses Pacaran
Setelah dibaca dan dipelajari sumber alkitab mulai dari kitab Kejadian sampai Wahyu tidak pernah ditemukan kata "Pacaran". Mungkin banyak orang merasa suka dengan kata "pacaran" sebelum memasuki proses tunangan dan pernikahan itu. Tetapi nyatanya, sumber Alkitab belum pernah menemukan kata "pacaran" itu. Dengan adanya arti kata "pacaran" tentunya merusak kehidupan umat manusia selama ini. Kalau begitu, kata pacaran lebih mendekati perbuatan zina (mogai). Entah perbuatan zina secara keinginan yang merusak Iman, moral dan nilai budaya bangsa, sebelum jatuh dalam dosa perzinahan secara fisik (seks). Mungkin arti kata "pacaran" itu bagian dari awal merusak citra diri kita kedalam keinginan daging seperti yang dialami manusia pertama hawa tergoda dengan keinginan di taman Eden sebelumnya. Jadi belum pernah ada kata pacaran yang ditemui didalam sumber Alkitab mulai dari perjanjian lama sampai perjanjian baru.
Allah mengakui dan berkenan setiap orang yang hidup sebagai suami dan istri melalui pernikahan, bukan pacaran. Kalau begitu, Allah menghormati hubungan pernikahan yang kita ketahui dalam kitab (Ibrani 13:4). Karena orang-orang yang mencemarkan tubuhnya dengan tindakan seks tanpa pernikahan dihakimi Allah. Setiap orang yang menjaga diri dari hubungan pacaran yang tidak sehat tanpa memikirkan tindakan kesenangan dan kenikmatan sesaat dapat menikmati kehidupan bahagia dan damai kemudian hari. Dengan hubungan pacaran yang tidak menimbulkan nafsu, emosi dan kontak fisik hingga pernikahan, tentunya kita sudah menyenangkan hati Allah.
B.Pendekatan Praktek Budaya Bangsa Menjalin Hubungan Pernikahan.
![]() |
| Pacaran Di hutan |
Setiap orang dilarang melakukan pacaran karena hubungan antara laki-laki dan perempuan lebih mendekati perbuatan zina (Mogai). Mereka lebih suka dengan proses minang bukan dengan proses pacaran, karena hubungan menemui jodoh belum tentu orangtua disetujui dan diterima meskipun suka sama suka.
Hubungan pacaran seseorang dapat diperhadapkan dengan orangtua menjadi nilai budaya yang dikatakan tepat dan adil sebelum jatuh cinta kepada pasangan hidup. Sebab pilihan jodoh setiap orang dapat diterima dan ditolak tentu ada jawaban melalui proses minang yang dibangun setiap orang secara sadar dan bertanggung jawab.
C.Pemahaman Proses Pacaran Secara Alkitabiah.
![]() |
| Nikah Kudus |
Kata pacaran secara alkitabiah belum dapat ditemukan. Tetapi konteks Alkitab memberikan prinsip-prinsip hikmat dan ketaatan moral yang mendasar bagi remaja/pemuda Kristen dalam menjalin hubungan relasi, termasuk berpacaran dengan tujuan menuju pernikahan. Diantara kedua pasangan diminta menjaga kekudusan tubuh sebagai bait Roh Kudus.
Pacaran tidak boleh melibatkan percabulan (hubungan seksual pra-nikah) karena tubuh setiap orang adalah bait Roh Kudus. Karena setiap dosa yang dilakukan keinginan sendiri termasuk dosa percabulan dapat merusak tubuhnya (1 Korintus 6:9, 13, 18). Dan setiap orang wajib menjaga pengudusan supaya masing-masing orang menjauhi dosa percabulan sebelum nikah. Dan setiap orang berhak mengambil istrinya sendiri melalui proses pernikahan supaya pasangan didalam rumah tangga harus ada didalam pengudusan dan penghormatan.
Dengan adanya hubungan pacaran, setiap orang Kristen disarankan dan diarahkan berpacaran dengan sesama orang percaya. Mereka mempunyai tujuan yang jelas dan berfokus pada persiapan pernikahan, bukan memuaskan hawa nafsu sementara waktu. Dengan hubungan pacaran yang tepat dan benar setiap orang menjaga kesetiaan dan menghormati pasangan hingga diakhiri dengan pernikahan menjadi kebutuhan orang percaya (2 Korintus 6:14).
D. Pacaran Yang Benar Di kalangan Umat Kristiani.
![]() |
| Nikah Gereja |
Dengan hubungan pacaran yang tepat dan benar menghasilkan buah Roh seperti yang kita ketahui didalam kitab (Galatia 5:22-23). Dengan hubungan yang baik akan berdampak kehidupan bahagia, damai, merendahkan diri, mengasihi, diberkati dengan segala usaha, diberi umur panjang, dan tercipta kehidupan merdeka. Dengan hubungan pacaran bagi setiap generasi penerus yang disebut harapan gereja dan keluarga dapat diawali dengan pernikahan kudus, dimana kedua belah pihak saling mengasihi dan menjalani kehidupan yang lebih dekat kepada Kristus kedalam dunia nyata menjadi pilihan yang tepat dan benar.
E. Kesimpulan dan Saran
Semoga generasi penerus tidak salah paham soal hubungan pacaran karena awal kesalahan membangun pacaran membuat rata-rata umat Kristen tidak dapat menahan emosi dan nafsu hingga kenikmatan seks terjadi dimana-mana tanpa diresmikan nikah terlebih dahulu kedalam dunia nyata. Sebab kesalahan membangun hubungan pacaran dapat merusak citra diri dan menolak Roh Kudus membangun kediaman didalam tubuh manusia itu sendiri. Tetapi hubungan pacaran yang mengutamakan Takut akan TUHAN dan menjauhi dosa percabulan/perzinahan (mogai) dapat diberi kedamaian dan kebagiaan sepanjang hidupnya melalui upacaran pernikahan kudus.
Didalam sumber Alkitab menekankan pada persahabatan yang tulus dan membangun hubungan kasih yang menghormati satu sama lain sebelum berkomitmen melakukan pernikahan daripada salah menterjemahkan kata pacaran membawa setiap orang jatuh kedalam percabulan/perzinahan itu. Entah apapun kondisi setiap orang tidak pernah terluput dari keinginan daging termasuk hubungan pacaran sehingga diharapkan semua orang dapat mengejar kehidupan yang tepat dan benar melalui proses minang yang menjadi pilihan tepat mewujudkan cinta diantara kedua lawan jenis itu.
By: Jach T Gobai / Pecinta Alam 🌿🍃
Disposkan : Aweida Papua




