Ilustrasi Perceraian |
AWEIDA-News--Pengertian
sederhana tentang perceraian adalah berakhirnya salah satu hubungan keluarga yang harmonis sebelumnya, kini dipengaruhi pada akulturasi budaya. Hal ini dapat terjadi pada saat pasangan
sudah tidak ingin lagi melanjutkan kehidupan bersama sebagai suami-istri. Ini
berarti adanya pemutusan komitmen, baik secara sepihak maupun secara
persetujuan bersama. Biasanya pemutusan ini lebih banyak pada unsur pemaksaan.
Dalam kehdupan kita telah mempelajari bahwa, masyarakat
papua yang berdomisili disetiap kota, termasuk kota Timika yang hidup dari berbagai sumber nafkah. Masyarakat pribumi yang disebut tujuh suku yang
sudah berkeluarga, kini dipengaruhi pada akulturasi budaya sehingga musim
perceraian dan pemisahan dalam keluarga semakin tinggi. Musim perceraian dan pemisahan keluarga ini berawal dari
kecemburuan sosial, perselingkuan dalam keluarga tak terbendung dan juga adanya
dorongan (nafsu) dari nilai mata uang yang tinggi sehingga hidup dalam rumah tangga
tak pernah merasakan aman dan tenang di kota dapur dunia ini.
Menurut
budaya orang papua, jika si laki-laki dan si perempuan sudah membentuk satu
keluarga baru berarti mereka hidup untuk saling mengasihi dan memperatkan
relasi yang erat. Dan hidup itu selalu memerlukan kebahagiaan dan ketenangan hidup bagi
yang telah membentuk satu keluarga baru dalam kehidupan keseharian. Budaya saling
bercerai dan berpisah adalah budaya akulturasi (migran), karena ini bukan budaya
para leluhur yang diterapkan pada zaman sebelum masuk pemerintah dan agama di
Tanah Papua. Budaya para leluhur sangat terikat pada nilai-nilai kultur sehingga semua orang berpatuh pada budaya anugrah itu.
Setiap
kepala suku dari suku masing-masing sangat mudah memberikan surat perceraian
antara suami dan istri, tanpa menganalisis awal penyebab mulainya perceraian
dan pemisahan dalam satu keluarga yang erat sebelumnya. Mereka yang berani memisahkan hubungan suami dan istri adalah
mereka yang belum memahami budaya para leluhur, hanya hidup ketergangutungan
dari akulturasi budaya. Kemungkinan mereka belum terpelajari nilai-nilai luhur
budaya bangsanya sendiri, hanya termotivasi pada budaya akulturasi. Bijak
memisahkan proses perceraian dan pemisahan masalah dalam rumah tangga keluarga
tetapi sangat sulit memberikan solusi kedamaian dan ketenangan hidup keluarga.
Apakah budaya para leluhur juga diterapkan musim perceraian dan
pemisahan keluarga sehingga dapat dipengaruhi pada perkembngan modern saat ini..?
Meskipun
kita hidup pada era globalisasi ini, segalanya terpenuhi serba bebas, namun apa
pun bentuk jaminan hidup dalam rumah tangga menjadi standar ketidaksesuaian
atau ketidakpuasaan. Ketenangan dan kedamaian dalam kehidupan keluarga sudah rapuh
dan kurangnya pencerahan rohani menyangkut kehidupan keluarga yang harmonis sehingga hidup
seperti bohon benalu yang belum mempunyai akar pada dasarnya.
Perceraian
dan pemisahan dalam rumah tangga terus terjadi karena adanya faktor berbisnis, misalnya seorang suami
ingin kawin lebih dari satu istri (poligami). Lalu suami tersebut berusaha memiliki
obat penarik perempuan. Obatnya belum pasti, apakah obat tersebut adalah
memang penarik perempuan ataukah obatnya perceraian dan pemisahan dalam keluarga.
Kemudian setiap perempuan (istri) juga memiliki obat pelumpuh kekuatan laki-laki dalam rumah tangga terus terjadi. "Obat tersebut akan digunakan untuk melemahkan daya berfikir suami, agar suaminya selalu tunduk pada perintah dari istri selama mereka masih hidup di bumi," katanya. Kedua faktor yang ini yang membuat dampak buruk pada keluarga itu sendiri sehingga ujungnya menuju perceraian dan pemisahan antara suami dan istri mulai nampak.
Lebih baiknya, ciptakan kedamaian dan ketenangan hidup dalam keluarga tanpa dipengaruhi pada akulturasi budaya dari lingkungan eksternal agar saling menjaga dan melindungi dalam keluarga adalah peran penting demi tercipta keluarga yang harmonis. Kita melihat secara nyata tentang keharmonisan hidup dalam keluarga yang kini seakan menjadi wacana sesaat tanpa menerapkan budaya para leluhur sesunggunya.
Kemudian setiap perempuan (istri) juga memiliki obat pelumpuh kekuatan laki-laki dalam rumah tangga terus terjadi. "Obat tersebut akan digunakan untuk melemahkan daya berfikir suami, agar suaminya selalu tunduk pada perintah dari istri selama mereka masih hidup di bumi," katanya. Kedua faktor yang ini yang membuat dampak buruk pada keluarga itu sendiri sehingga ujungnya menuju perceraian dan pemisahan antara suami dan istri mulai nampak.
Lebih baiknya, ciptakan kedamaian dan ketenangan hidup dalam keluarga tanpa dipengaruhi pada akulturasi budaya dari lingkungan eksternal agar saling menjaga dan melindungi dalam keluarga adalah peran penting demi tercipta keluarga yang harmonis. Kita melihat secara nyata tentang keharmonisan hidup dalam keluarga yang kini seakan menjadi wacana sesaat tanpa menerapkan budaya para leluhur sesunggunya.
Sebagai
kepala keluarga (suami) wajib memiliki jiwa kebapaan untuk melindungi dari
musim perceraian ini, sebab suami adalah kepala dari segala kepengurusan dalam
kehidupan keluarga itu sendiri atau motor pengemudi dalam kehidupan keluarga dari berbagai
pengaruh negatif yang seakan hidup dari nafsu duniawi saat ini.
Perceraian
sama sekali tidak dilegalkan dalam pernikahan kristen. Tuhan Yesus sangat jelas
sekali menekankan bahwa apa yang sudah dipersatukan Allah tidak dapat
diceraikan oleh manusia (Markus 10:9). Perceraian tidak pernah menjadi
keinginan Allah, dan selalu merupakan hasil dari dosa. Manusia tidak mempunyai
wewenang atau hak untuk dapat menggagalkan perjanjian pernikahan antara Tuhan
dan pasangan. Oleh karena itu, pemahaman awal mengenai pernikahan yang sesuai
dengan kehendak Allah perlu dipahami secara mendalam oleh masing-masing
pasangan.
Akhir
kata, suami dan istri mempunyai tugas dan tanggungjawab masing-masing sambil
menjalani proses hidup dibawa kolong langit. Yang terpentingkan adalah selalu
membedakan fungsi dan tugas masing-masing serta mendasari nilai-nilai budaya
leluhur pada era saat ini. Dan kita harus mempelajari makna hidup tentang
keluarga yang harmonis dari berbagai nasihat dari para leluhur kita.
Sesunggunya, manusia diciptakan untuk saling mengasihi dan mempereratkan
hubungan keluarga yang erat tanpa dipengaruhi pada era globalisasi yang hidup dalam
lumpur-lumpur dosa ini. Jika kita hidup belajar dari budaya para leluhur tentu
akan mengantar kita pada kebahagiaan dan ketenangan hidup dapat tercipta
sementara hidup numpang di bumi.
By: Awimee Gobai / Pecinta Alam Papua
By: Awimee Gobai / Pecinta Alam Papua