Headlines News :

.

.
Home » , , , , , » Diketahui Kebiasaan Hidup Para Leluhur di Kampung Iyei Momaiye, Paniai Utara.

Diketahui Kebiasaan Hidup Para Leluhur di Kampung Iyei Momaiye, Paniai Utara.

Written By Aweida Papua on Minggu, 23 Agustus 2026 | 19.23

Diketahui Kebiasaan Hidup Para Leluhur di Kampung Iyei Momaiye, Paniai Utara. 

Setiap kampung mempunyai cerita tersendiri. Cerita yang mengandung sejarah, nasihat hidup, mitos, maupun hubungan sosial secara turun-temurun pada setiap generasi. Apa yang dimaksudkan dengan cerita sejarah itu...? 

Cerita sejarah adalah suatu uraian yang menjelaskan kronologi mengenai fakta masa lalu serta kebiasaan hidup sosial yang melekat pada setiap insan manusia. Dengan adanya cerita sejarah, penulis dapat menyumbangkan gagasan atau ide tertentu terkait hubungan klan dan kebiasaan hidup rakyat  yang dialami masyarakat kampung terutama kebiasaan hidup yang diterapkan para keluhur di Kampung Iyei Momaiye, Paniai secara nyata pada masa lalu. 

Terbentuknya Kampung Iyei Momaiye bagian dari salah satu kampung di daerah Kabupaten Paniai, tepatnya bagian wedaumamo Kebo. Pada awalnya, Marga Tenouye Amoyepa dan Kayame Kigougapa bertemu hingga menjadikan Kampung Iyei. Banyak cerita kehidupan para leluhur terkait pelestarian nilai-nilai budaya bangsa yang menjadi cikal bakal masyarakat penghuni. Oleh karena itu, sebelum mengetahui sejarah kehidupan dapat diperlukan diskusi bersama orangtua kita yang dianggap tertua dan toko adat dengan maksud menggali nilai-nilai kehidupan budaya bangsa itu sendiri. 

Selain berkunjung, kami membutuhkan pencerahan tentang cerita kehidupan para leluhur. Dimana kehidupan orangtua para leluhur dapat diketahui melalui konsultasi secara tatap muka demi pentingnya menggali hubungan kekerabatan, kondisi kehidupan masyarakat, dan ceritera kehidupan para leluhur tentang perayaan pesta adat (Yuwoo) para leluhur di Kampung Iyei Momaiye. 

Uraian sejarah kehidupan marga Tenouye dan Kayame Dakopa yang berdiam  di kampung Iyei Momaiye. Khusus keluarga Tenouye dibagi kedalam tiga keluarga klan besar yakni, keluarga pertama (Ibopa) asal Dogiya Dide. Dan yang kedua, keluarga (Ipougapa) yang berasal dari Yeebado-Wagibado. Kemudian yang ketiga keluarga (Egukopa) yang berasal dari kampung Eduda, Piyapotapa, dan Yokagadagi. Tiga keluarga besar dihuni dengan cerita tersendiri dengan adanya perayaan pesta adat (Yuwoo) semenjak masa lalu. Selain Marga Tenouye, ada pula dengan marga kayame (dakopa) yang menjadi penghuni pertama, Yeimo Emigai asal Tupemani juga menyusul dari Ugamo. Peleburan multi marga terus terjadi di kampung Iyei Momaiye. Keluarga Marga Boma dan Dumupa juga ikut serta dengan Kayame Dakopa dengan adanya hubungan amalgamasi diantara mereka jauh sebelumnya. Proses kawin campur diantara mereka dapat terjadi. Kehidupan mereka lebih rukun dan damai melalui proses pemulihan dengan adanya pesta adat (yuwoo) pada masa lalu. Pesta adat (yuwo) menjadi simbol perdamaian, pemulihan, persatuan dan terjalin hubungan kebersamaan didalam kehidupan turun-temurun. 

Semua keluarga dapat memperoleh kehidupan ekonomi mandiri jauh sebelumnya hingga tatanan kehidupan mereka lebih bermapan sebelum memasuki era penyebaran agama modern. Kebiasaan hidup mereka sangat tepat dan benar dapat dipelihara dan dipertahankan guna memerangi bakal terjadinya musim kelaparan kemudian hari. Dimana kehidupan orangtua para leluhur sangat erat dengan tradisi kehidupan yang bersumber dari olahan tanah sebagai sumber kehidupan alami. Pelestarian budaya dapat dijunjung tinggi dengan adanya pesta adat (Yuwoo) diadakan sebelum menerima penyebaran agama di daerah sekitaran Paniai.

#Persembahan Pesta Adat (Yuwoo) Kedua Berlangsung di Iyei Momaiye. 

Generasi terdahulu, mereka pernah melakukan pesta adat (yuwoo) kedua di kampung Iyei Momaiye setelah diadakan pesta adat pertama disekitaran daerah paniai tepatnya di Agadide sebelum masuk agama. Diketahui bahwa pesta adat(yuwoo) dibuat dalam bentuk pemulihan untuk perubahan hidup. Entah perubahan hidup kondisi kesehatan, keturunan, dan penghasilan ekonomi. Dengan adanya pesta adat (yuwoo) dapat menyehatkan jiwa dan raga setiap penghuni agar kebebasan hidup mereka mulai dari berbagai gangguan dapat terpulih dan menikmati kelangsungan hidup damai bersama. Kemungkinan pesta adat (Yuwoo) juga bagian dari persembahan hidup kepada Allah Nenek Moyang mereka supaya ada perubahan hidup secara berkelanjutan. Kebiasaan pesta adat (yuwo) sudah diganti dengan kegiatan natal setelah menerima penyebaran agama, terlebih khususnya kampung Iyei Momaiye itu sendiri.

Sebelumnya para leluhur memiliki banyak ternak yang dimiliki setiap marga dan keluarga. Karena ternak mereka lebih banyak dari kampung-kampung lain, para leluhur selalu mengadakan pesta adat (yuwoo) berulang-ulang pada masa lalu. Tetapi kondisi terkini belum dapat dipastikan bahwa kapan pesta adat "Yuwoo" diadakan kemudian hari, terutama kampung Iyei-Momaiye itu. Dimana setiap orangtua para leluhur memiliki banyak kandang ternak untuk dirayakan pesta adat (yuwo) bersama sebelumnya. 

Semasa kecil, pernah kami melihat beberapa orangtua biasanya masak babi lebih dari dua ekor per-keluarga pada musim perayaan natal, pasar kingmi, dan kegiatan terpenting lainnya. Diantara beberapa keluarga saling bersaing untuk pelihara ternak "Babi". Semua hasil ternak yang dimiliki dapat bersaing secara sehat sebagai warisan nenek moyang. Bahkan produk-produk pangan lokal terlihat setiap pekarangan rumah bertumbuh secara alami. Tetapi generasi kini tak seorangpun dapat dipikirkan hidup dari sumber alami seperti yang diterapkan oleh para leluhur pada masa lalu.

Praktek nilai budaya dengan adanya pengadaan pesta adat "yuwoo" seharusnya dilakukan dalam bentuk pemulihan para generasi terkini dari beberapa keluarga yang bermukim disana. Namun kondisinya, merasa dipaksa hingga membutuhkan beberapa tahun kemudian. Biarlah setiap peristiwa dan keadaan hidup para leluhur sudah berakhir dengan kondisi hidup mereka. Kini honai laki-laki (yamee owaa) juga belum terlihat dibangun. Hidup dari pemeliharaan ternak juga sangat jarang ditemukan. Kebiasaan hidup untuk bercocok menanam segala bibit pangan lokal juga diabaikan dan dilupakan generasi terkini. Apa lagi kami mendesak harus mengadakan pesta adat (yuwoo) yang ditinggalkan para leluhur tanpa persiapan pada masa kini.

Semoga dengan kesimpulan ini, setiap peristiwa atas kenangan hidup para leluhur dapat dikenang sebagai refleksi diri dan menambah wawasan berpikir atas kehidupan para leluhur secara berkelanjutan. Dengan adanya kehidupan sudah moderenisasi ini, kita kembali menghidupkan tatanan kehidupan alami pada masa lalu. Semua uraian cerita yang sudah disampaikan setiap orangtua dapat menggali hubungan kekerabatan yang lebih mendalam khusunya semua penghuni yang berasal dari kampung Iyei Momaiye disana. Dan mencari tahu nilai-nilai pesta adat (yuwo) yang dilakukan para leluhur kita agar kondisi tertentu dapat menceritakan kepada generasi penerus sebagai bahan pertimbangan kemudian hari. 


By: Jachob T Gobai (Refleksi Sejarah) 

Share this article :

.

.

HOLY SPIRITS

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

TRANSLATE

VISITORS

Flag Counter

MELANESIA IS FASIFIC

MELANESIA IS FASIFIC

MUSIC

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD
 
Support : AWEIDA Website | AWEIDANEWS | GEEBADO
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2015. Aweida Papua - All Rights Reserved
Template Design by AWEIDA Website Published by ADMIN AWEIDA