Untuk menjawab penyebab terjadinya kontak fisik soal dosa perzinahan atau percabulan (seks bebas) pada masa pacaran diantara laki-laki dan perempuan muda membutuhkan pemahaman dan memiliki kecerdasan secara komprehensif. Seseorang jatuh didalam tindakan perzinahan dan percabulan saat pacaran karena adanya kombinasi dorongan biologis, lemahnya batasan fisik, serta situasi pribadi yang tidak dijaga dengan baik. Walaupun tidak semua pasangan mengalaminya, tetapi banyak yang terjerumus (terjebak) karena beberapa alasan utama sebagai berikut:
1. Faktor pendorong Internal
A. Dorongan biologis: Rasa ketertarikan fisik dan hasrat seksual adalah bagian dari sifat alami manusia yang aktif pada usia muda. Dan hal itu dipicu karena hormon setiap manusia berubah dari anak-anak memasuki usia remaja ke pemuda. Usia masih puberitas menentukan pilihan hidup dari emosi, panas dan nafsu dari masa pertumbuhan remaja menuju pemuda. Masa peberitas menentukan kehidupan total setiap insan manusia, disebabkan usia puberitas memasuki tahapan pengujian, cobaan dan tantangan menentukan masa depan setiap orang.
C. Lemahnya Pengendalian Diri: Kegagalan mengontrol pikiran awal sebelum berubah menjadi tindakan nyata. Kurangnya komitmen awal untuk menjaga kekudusan dan kemurnian hubungan. Mulai dari sentuhan kecil (berpegangan tangan, berpelukan, berciuman) yang terus meningkat hingga tidak dihentikan sampai kontak fisik hingga perzinahan atau percabulan menghasilkan buah kejahatan (dosa).
2. Faktor Pemicu Situasi dan Lingkungan.
A. Berduaan di Tempat Sepi: Menghabiskan waktu terlalu lama di tempat tertutup atau sunyi yang jauh dari pengawasan orang lain. Pembiaran orangtua memberi ruang bebas kepada setiap anaknya pada usia dini membuat generasi menjadi ternoda hingga harga diri dihancurkan akibat praktek tidak bermoral dalam kalangan usia dini.
B.Kurangnya Batasan Jelas: Tidak menetapkan aturan sejak awal tentang apa boleh dan tidak boleh dilakukan secara fisik. Disini kurangnya nasihat orangtua terhadap anaknya ketika bertumbuh pada usia anak memasuki langkah remaja pada masa muda. Tanpa diajarkan pembinihan Iman dan moral serta praktek nilai budaya terus dilanggar hingga memicu pergaulan bebas kedalam ruang kesenangan sebelumnya.
3. Faktor pengaruh Dari Luar (Eksternal)
A.Pengaruh Media Sosial: Tontonan atau cerita bebas yang membuat hal tersebut terlihat biasa atau wajar dilakukan. Pengaruh media sosial berhasil membunuh pikiran sehat seseorang berubah menjadi perasaan dan tindakan kotor hingga ingin memiliki pasangan tanpa menikah terus ada. Dengan adanya komunikasi insentif memberi sinyal hingga seseorang ingin melakukan sesuatu terus ada termasuk awal memberi pesan lewat inbox, SMS, komentar bahkan komunikasi terbuka pasa awal membuka pintu masuk kejahatan (dosa). Kemudian sering nonton video yang berbau pornografi berlebihan hingga ingin dicoba juga tak terpungkuri selama ini.
B.Lingkungan Pertemanan: Tekanan dari pergaulan bebas yang menuntut bukti cinta dilakukan secara fisik. Didalam pergaulan pertemanan dapat diperlukan tetapi kondisi tentu teman menjadi jembatan membawa kita kedalam pergaulan bebas hingga harga diri kita jual habis-habisanya. Seseorang tidak dibatasi hak hidup untuk mengenal dunia baru melalui pergaulan dengan teman tetapi seringkali pergaulan yang salah dan bodoh mengantarkan seseorang terjerumus kedalam penyakit seks bebas tak terhindarkan.
4. Pengendalian dan Solusi Menghindari Dosa Perzinahan (Seks Bebas).
Pengendalian dan solusi utama untuk menghindari dosa perzinahan atau seks bebas adalah dengan memperkuat iman, menjaga pandangan, serta menghindari situasi pemicu seperti berduaan dengan bukan pasangan sah.
Mari kita ketahui langkah-langkah pengendalian dan solusi praktis untuk menghindari perbuatan zina (moga) pada masa pacaran sebagai berikut:
1. Pengendalian Diri (Kontrol Internal)
2. Solusi dan Pencegahan (Kontrol Eksternal).
Menghindari Kontak Fisik: Tidak berduaan dengan lawan jenis di tempat sepi serta membatasi campur baur yang tidak perlu. Resiko terbesar yang dihadapi setiap anak mudah dalam proses pacaran lebih mudah tergoda ketika berduaan ditempat yang sepih dan sunyi. Ditulah seorang diarahkan mampu mengontrol diri demi menjaga diri dari penyakit seks bebas.
Menyibukkan diri dengan kegiatan positif: Mengisi waktu luang dengan olahraga, belajar keterampilan baru, bekerja, atau aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial.
Menikah Jika Dipertanggung Jawabkan: Menyalurkan hasrat biologis melalui jalur pernikahan yang sah. Jika belum mampu secara finansial, dianjurkan untuk berdoa dan berpuasa guna meredam hawa nafsu yang seringkali dihadapi setiap generasi penerus terutama dalam proses berpacaran kedalam dunia nyata.
Peran aktif keluarga: Orang tua perlu mengawasi pergaulan anak, membatasi penggunaan media sosial yang tidak terkontrol, serta memberikan dasar pendidikan agama yang kuat sejak dini.
5. Kesimpulan dan Saran.
Seks bebas dalam pacaran sama sekali tidak layak dan dilarang keras menurut firman Tuhan. Kebenaran (injil) secara konsisten menegaskan bahwa hubungan seksual adalah karunia Tuhan yang suci, tapi hanya boleh dilakukan didalam ikatan pernikahan yang sah. Orang yang melakukan seks yang mengandung perzinahan (percabulan/seks bebas) di luar pernikahan, termasuk saat masih berpacaran dapat dikategorikan sebagai dosa kejahatan. Sebab dosa perzinahan (percabulan/seks bebas) dapat menghasilkan kejahatan dosa terbesar yang merusak tubuh seseorang sebagai rumah Allah (Bait suci). Oleh karena itu, setiap generasi mudah wajib menjauhi unsur dosa perzinahan (percabulan, seks bebas) yang menghancurkan diri sendiri hingga tak berharga dihadapan TUHAN maupun kepada sesama di dunia nyata.
By: Jachob T Gobai (Refleksi Sosial)







.jpeg)
