Selain menewaskan lima orang, satu anak kecil juga terluka dalam kejadian itu.
Akibat operasi militer yang menewaskan lima orang dan melukai satu anak, menyebabkan terjadinya gelombang pengungsian. Beberapa orang memilih ke kampung Kimbeli dan Banti, banyak diantaranya yang karena ketakutan dengan kejadian itu mengungsi ke kota Timika.
Warga berjalan kaki lewat jalur umum, bahkan beberapa lainnya memilih melewati hutan dengan tujuan ke kota Timika.
Dari lima korban meninggal dunia itu, satunya Nalince Wamang (17). Gadis kelahiran 1 April 2009 itu menurut keluarga, baru saja menerima hasil kelulusan dari SMK Petra Mimika dan akan melanjutkan kuliah.
![]() |
| Nalince Wamang |
Belum lama dulang emas, saat mau istirahat malam di dalam kamp yang ditempati korban bersama mama, adik dan kakaknya, nasib tak terduga itu datang. Mereka disergap Satgas Rajawali Habema yang diduga tengah menjalankan operasi di kawasan Tembagapura.
Beberapa foto dan video kejadian itu beredar di media sosial.
Foto Nalince Wamang berseragam sekolah bersama foto setelah diterjang peluruh juga sudah viral.
“Kemarin satu hari dia naik di kamp. Siang itu dia sama-sama dengan saya, baru saya ke camp sebelah,”ucapnya di hadapan anggota Polsek Tembagapura.
Menurutnya, saat kejadian, korban bersama mama dan adik-adiknya sedang duduk minum kopi di kamp. Tiba-tiba anggota TNI berjumlah lebih dari 10 orang tanpa menyapa berdiri di depan pintu langsung melepaskan tembakan ke dalam kamp.
Tembakan itu menewaskan dua adik perempuan. Sedangkan Narlince lari ke arah hutan. Dia langsung dikejar pasukan bersenjata itu. Sedangkan mama mereka ditahan aparat.
"Saya sendiri lari sampai di rumah di bawah (Kimbeli),” tuturnya.
Tiba di kampung Kimbeli sekitar pukul 07.00 pagi, dia menuju ke kamp untuk mencari adik perempuan.
Bersama masyarakat lainnya berusaha mencari korban yang lain, termasuk Nalince Wamang. Tetapi tidak ditemukan di lokasi awal.
“Saya kemudian pergi ke Polsek Tembagapura untuk lapor,” katanya.
Dari kesaksiannya, anggota yang mendatangi kamp di malam hari mengenakan pakaian loreng. Sebagian anggota bersembunyi dan lainnya berdiri di sekitar lokasi camp.
Katanya, masyarakat dipaksa keluar dari kamp. Mereka dikumpulkan di salah satu rumah sebelum pagi harinya dibawa ke Tembagapura.
“Adik Nalince setelah kena tembak keluar lari, tapi mati di hutan,” jelasnya.
Sementara itu, Agustinus Anggaibak, ketua MRP Papua Tengah mengaku telah berkoordinasi dengan Kapolda Papua Tengah sesuai permintaan keluarga agar korban dibawa ke kota Timiak untuk dimakamkan.
Terhadap permintaan keluarga korban disampaikan Agustinus Anggaibak, Kapolda Papua Tengah kemudian memerintahkan anggotanya membawa jenazah ke rumah duka di kota Timika.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf Wirya Arthadiguna, mengatakan, pelaku penembakan yang menewaskan dan melukai beberapa warga di distrik Tembagapura itu dilakukan kelompok separatis pimpinan Gusbi Waker.
Disampaikan dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026), Arthadiguna menyatakan, pihaknya menjunjung tinggi kemanusiaan dan rakyat sipil wajib dilindungi.
Tetapi dalam keterangan pers sehari sebelumnya, juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, menyatakan, warga sipil di camp-camp pendulangan sisa tailing Freeport itu dilakukan aparat militer Indonesia.
Kata Sebby, penembakan menimpa warga sipil dalam operasi militer yang dilakukan sejak Kamis (7/5/2026) malam hingga Jumat (8/5/2026) pagi.
Sebby mengutip laporan itu, lima orang warga sipil yang ada di lokasi kejadian mati di tempat dan seorang balita juga mengalami luka-luka di bibir.
“Akibat dari kejadian itu ribuan warga sipil mengungsi ke wilayah Kimbeli dan kota Timika. Hingga hari Jumat siang ini, para pengungsi dari kali Kabur sebagian besar masih berjalan kaki ke kota Timika melewati jalur umum dan hutan-hutan,” tulisnya di siaran pers itu.
Disposkan: Aweida Papua






