Headlines News :
Home » , , , » Memahami Akulturasi Budaya Terhadap Budaya Injil

Memahami Akulturasi Budaya Terhadap Budaya Injil

Written By Aweida Papua on Minggu, 24 Januari 2016 | 22.50


" Memahami Akulturasi Budaya Terhadap Budaya Injil "

AWEIDA-News, Pada era globalisasi ini, perlu membudayakan diri dengan budaya injil yang sudah ada, sebelum dikerjakan hal-hal lain yang menjadi kewajiban dalam setiap upaya. Budaya bangsa berbicara tentang kebiasaan hidup manusia yang melekat pada diri seseorang yang terdapat pada suatu wilayah, daerah dan kampung kami masing-masing. Dan budaya bangsa juga tak terluput dari kebiasaan hidup diri seseorang selama dirinya masih hidup di dunia. Dalam hal ini, sebelum kita akan mempelajari definisi dari budaya bangsa tentunya kita mendalami definisi dari budaya itu sendiri.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Saat ini, kehidupan orang papua merasa terhimpit dan terdesak, dengan dominannya berbagai denominasi aliran agama di wilayah yang kita huni saat ini. Sebab banyaknya, denominasi ajaran agama yang bisa memutarbalikan paradigma berfikir yang fundamental pada budaya sesunggunya. Injil sudah ada sebelum para Missionaris membawa agama di Tanah Papua. Dan budaya peran para leluhur identik dengan injil yang dibawa oleh para Missionaris pada beberapa tahun yang lalu itu.

Mengapa katakan demikian? Orang berbicara tentang kasih Tuhan dalam versi Alkitab, tentu para leluhur juga telah melakukan dan menjalankan selama berabad-abad hingga sampai pada abad pertengahan masuknya injil. Injil bukanlah suatu simbol yang bertentangan dengan budaya lokal yang terdapat dimana kita huni, melainkan dapat menyesuaikan dengan budaya injil yang berprinsip tradisional.

Yang menjadi persoalan buat masyarakat papua sekarang adalah kita sering mengabaikan budaya yang benar-banar seharusnya, kita sesuaikan dengan versi Alkitab. Bahkan terkadang kita melupakan budaya kita sendiri, lalu hidup ketergantungan dari budaya asing yang menjadi leluasa.

Seringkali kami beranggapan bahwa budaya itu, sesuatu yang dianggap primitif atau tidak berguna, akan tetapi kita memahami secara universal tentang budaya tentunya makna yang sangat signifikan dan urgen. Jika kita hanya berpijak pada era modern saat ini, budaya tentu akan menuntut dimanapun kita berada. Lagi pula, umur kita pun akan terbatas, akibat kedidaktaatan pada budaya peran para leluhur yang beridentik budaya injil yang seharusnya diprioritaskan sepanjang hidup. Disimaknnya, kita orang papua hidup hanya tergantungan dari budaya orang lain, selagi kami masih menunggu dalam kondisi penantian ini.

Kehidupan generasi saat ini, telah berdampak dekadensi nilai-nilai kultur yang semestinya dipertahankan dan dilestarikan sebagai warisan dari tua peninggalan bagi negerasinya. Perlu kita sadari dan mengembangkan budaya yang benar itu, serta dapat melestarikan dan mempraktekan secara universa, tanpa terpengaruh dengan akulturasi budaya. Perbadingan budaya para leluhur identik dengan injil yang di bawah oleh Para Misionari beberapa tahun yang lalu di Papua. Injil sebagai sebuah simbol atau kompas perlawanan yang akan terjadinya akulturasi budaya luar.

Alkitab dan Alquran menjadi pedoman dan bahan refleksi buat generasi penerus papua serta diversikan dengan budaya para leluhur yang sesunggunya. Yang perlu kita atasi bersama adalah budaya perang saudara atau konflik sosial yang sering terjadi di Bumi Cendrawasih, terutama daerah-daerah pedalaman Papua. Seharusnya, budaya perang suku atau perang keluarga itu, tentu mempunyai kaidah-kaidah atau aturan-aturan perangnya. Namun perang yang sering terjadi di papua saat ini, tidak sesuai dengan perang para leluhur sebelum masuk injil. Maka itulah yang dikatakan akulturasi budaya tercemar di Bumi Cenderawasih.

Dapat disimpulkan bahwa, setiap suku bangsa mempunyai budaya tersendiri yang masih abadi. Dengan adanya budaya injil dapat dilestarikan, dikembangkan dan dipertahankan oleh setiap suku bangsa. Budaya injil adalah berkat anugrah dari TUHAN kepada bangsa papua yang mempunyai budaya peran para leluhur. Semuanya itu dapat dirawat, diwariskan kepada generasi-kegenerasi berikutnya. Yang menjadi kewajiban bersama adalah merenungkan dan mempelajari sepuluh firman TUHAN dalam kitab keluaran yang terdapat pada pasal yang ke-20:1-10, itu menjadi bahan perenungan tersendiri bagi setiap individu, terutama kepada anak-anak negeri yang mempunyai bumi diatas Tanah Kelahiran-Nya.

By: Awimee Gobai / Pecinta Alam Papua
Share this article :

.

.

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

TRANSLATE

RENUNGAN HARIAN

VISITORS

Flag Counter

BIRD OF PARADISI

MELANESIA IS FASIFIC

MELANESIA IS FASIFIC

MUSIC

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD
 
Support : AWEIDA Website | AWEIDANEWS | GEEBADO
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2015. Aweida Papua - All Rights Reserved
Template Design by AWEIDA Website Published by ADMIN AWEIDA