Headlines News :
Home » , » Budaya Injil Sudah Ada sebelum Masuk Agama di Tanah Papua

Budaya Injil Sudah Ada sebelum Masuk Agama di Tanah Papua

Written By Aweida Papua on Rabu, 31 Desember 2014 | 07.49

Kaboyago Bagee
AWEIDA-NewsKehidupan merasa terhimpit dan terdesak, dengan dominannya berbagai denominasi aliran agama diwilayah yang kita huni saat ini. Sebenarnya, injil sudah ada sebelum para Missionaris membawa agama di Tanah Papua. Dan budaya peran para leluhur identik dengan agama yang dibawa oleh para Missionaris.

Mengapa katakan demikian? Orang berbicara tentang kasih Tuhan dalam versi Alkitab, tentu para leluhur juga telah melakukan dan menjalankan selama berabad-abad hingga sampai pada saat abad pertengahan masuknya injil.

Yang menjadi persoalan buat masyarakat papua sekarang adalah kita sering mengabaikan budaya yang benar-banar seharusnya, kita sesuaikan dengan versi Alkitab. Bahkan terkadang kita melupakan budaya kita sendiri dan dianggap bahwa budaya itu, sesuatu yang primitif atau tidak berguna. Jika kita hanya berpijak pada era modern saat ini, budaya tentu akan menuntut dimanapun kita berada. Lagi pula, umur kita pun  akan terbatas dikarenakan kehidupan kita hanya tergantung dari budaya orang lain.

Kehidupan generasi saat ini, telah berdampak dekadensi nilai-nilai kultur yang sebenarnaya dipertahankan dalam kehidupan sebagai identitas diatas negeri mereka. Perlu kita sadari dan mengembangkan budaya yang benar itu, serta dapat melestarikan dan mempraktekan  secara universal, tanpa terpengaruh dengan akulturasi budaya. Perbadingan budaya para leluhur identik dengan injil yang di bawah oleh Para Misionari di Papua. Injil sebagai sebuah simbol atau kompas perlawanan dengan terjadinya akulturasi budaya luar.

Alkitab dan Alquran menjadi pedoman dan bahan refleksi buat generasi penerus papua serta diversikan dengan budaya para leluhur itu. Yang perlu kita atasi bersama adalah budaya perang saudara atau konflik sosial yang sering terjadi di Bumi Cendrawasih, terutama daerah-daerah pedalaman Papua. Seharusnya, budaya perang suku atau perang keluarga itu, tentu mempunyai kaidah-kaidah atau aturan-aturan perangnya. Namun perang yang sering terjadi di papua saat ini, tidak sesuai dengan perang para leluhur sebelum masuk injil. Maka itulah yang dikatakan akulturasi budaya tercemar diBumi Cenderawasih.

Budaya perang suku atau konflik sosial sekarang terkontaminasi dengan akulturasi budaya orang lain sehingga memakan korban jiwa manusia papua terus-menerus terjadi. Siapakah yang dapat menanggung segala konflik yang megakibatkan nyawa manusia tanpa berdosa di Bumi Cendrawasih itu?  Mungkin saja, perang suku atau konflik sosial itu, terjadi karena kepentingan tertentu dari sekelompok orang yang demi memanfaatkan kepentingan ekonomi, politik dan kekuasaan lainnya. Generasi penerus papua harus berfikir secara  objektif dan akurasi atas tindakan-tindakan selanjutnya. 

Salah contoh kehidupan para leluhur orang Melanesia, Papua. Apabila seorang pria merasa diri sudah burbuat dosa atau berhubungan badan dengan istri dari suami orang Lain, tentu diantara si laki-laki dan perempuan tanpa ampun menghabiskan kedua nyawa diatas gantungan panahan. Karena apa yang diperbuat si laki-laki dan perempuan itu, sudah melanggar budaya perang para leluhur. Kemudian pihak dari suami si istri bersama pihak dari pelaku laki-laki berkumpul untuk berunding agar persoalan itu dapat terselesaikan secara radikal tanpa merasa berkeberatan terhadap kedua belah pihak. Kemudian kedua pelakunya dinyatakan melanggar hukum Adat.

Proses selanjutnya, kedua pelaku mengantungkan diatas kayu yang berbentuk salib agar rakyat diputuskan untuk membunuh kedua pelakunya. Demikian pula pihak laki-laki dan perempuan membuat kesepakatan untuk menyelesaikan kasus tersebut secara budaya perang para leluhur dan persoalan itu diselesaikan pada saat itu juga. Tanpa merasa kecurigaan dan berkeberatan antara  sesama warga  yang ada di kampung itu.

Budaya perang suku atau konflik sosial bukan melibatkan pihak lain, tetapi mencari kedua oknum atau yang disebut pelaku agar bagaimana proses penyelesiaan masalah  itu dapat terselesaikan secara radikal. Untuk itulah, kepada generasi muda tidak akan terpengaruh dengan budaya akulturasi yang tercemar, tetapi justru menjadi simbol perlawanan akulturasi budaya  dengan kekuatan Injil. Semoga kita hidup berintim dengan kebenaran, maka kehidupan kita tentu terus berubah, sesuai budaya yang diberikan oleh pencipta kepada orang Papua, asal kita setia mengikuti kebenaran Pencipta. "Syalom" (Admin/AWEIDA)
Share this article :

.

.

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

TRANSLATE

RENUNGAN HARIAN

VISITORS

Flag Counter

BIRD OF PARADISI

MELANESIA IS FASIFIC

MELANESIA IS FASIFIC

MUSIC

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD
 
Support : AWEIDA Website | AWEIDANEWS | GEEBADO
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2015. Aweida Papua - All Rights Reserved
Template Design by AWEIDA Website Published by ADMIN AWEIDA