Headlines News :
Home » , » "Kini Kehilangan Filosofi Hidup Suku Mee, Dou (Melihat), Gai (Berfikir), dan Ekowai, (Melakukan/Bertindak) di Wilayah Meepago”

"Kini Kehilangan Filosofi Hidup Suku Mee, Dou (Melihat), Gai (Berfikir), dan Ekowai, (Melakukan/Bertindak) di Wilayah Meepago”

Written By Aweida Papua on Kamis, 20 November 2014 | 21.57

KABOYAGO BAGEE
AWEIDA-News, Dalam kehidupan sosial pada suatu bangsa tentu mempunyai landasan hidup atau Filosofi hidup tersendiri. Filosofi hidup suku Mee, yang mendiami dikawasan pegunungan tengah, dibagian barat diantaranya; Nabire, Paniai, Deiyai, dan Dogiyai mempunyai landasan hidup dengan istilah yang disebutkan “Dou” artinya melihat dari sudut pandang secara menyeluruh. Kemudian filosofi yang kedua adalah Gai, artinya berfikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu dalam kehidupan suku itu sendiri. Dan yang terakhir “Ekowai” artinya melakukan atau bertindak semua yang dianggap terpenting dalam kehidupan bagi suku mee yang  hidup di wilayah mereka. Ketiga Filosofi diatas ini, sebagai suatu renungan sepanjang waktu, bagi mereka yang dianggap bagian dari ketiga filosofi itu sendiri.

Kami sering mendegarkan istilah Dou (Melihat), Gai (Berfikir), dan Ekowai (Melakukan/Bertindak) pada saat diskusi ilmiah, seminar dan berbagai kegitan lainnya. Namun Filosofi Dou, Gai dan Ekowai itu sebagai suatu wacana kekinian, tanpa dipraktekan sepanjang hidup suku Mee selama ini.  Suku Mee adalah manusia sejati artinya, mereka bisa memahami makna dari filosofi itu sendiri, lalu membedakan mana yang baik dan yang buruk adalah penyelamatan bagi negerasi berikut pada kemudian hari. Manusia Papua, Suku Mee, angka kematian terus meningkat karena akibat dari ketidaktaatan pada ketiga filosofi diatas ini.

Manusia Papua, Suku Mee sedang menujuh pada kepunahan etnis karena terkontaminasinya budaya akulturasi dengan berbagai produk pemusnahan dari mereka yang mendominasi di daerah yang kita cintai saat ini. Para leluhur dinasihati, disarankan dan diintruksikan untuk pencegahan berbagai produk genosida akan merajahlela Tanah Papua, terutama di Wilayah MEEPAGO. Produk Genosida itu bermunculan setelah papua terintegrasi ke-negara Indonesia. Dan realita berbagai produk genosida diatas tanah kita saat ini, bukan menjadi suatu tabu ditelinga kita sepanjang kehidupan suku Mee. 

Disini kami akan menceritakan beberapa inspirasi dari para leluhur bersama orangtua kami selama hidup suku Mee. Setiap hari didengar dengan perkataan jangan melakukan sek bebas, minuman keras dan tindakan-tindakan destruktif lainnya. Karena menurut para leluhur kami akan punah diatas tanah kami sendiri, bila tidak didasari dengan filosofi hidup suku Mee. Namun tak diduga manusia papua, suku Mee hidup sepertinya diluar dari filosofi hidup suku Mee yang sebenarnya. Dimanakah makna dari filosofi hidup suku mee selama ini? Ataukah kita hanya disebutkan istilah Dou, Gai dan Ekowai itu sebagai omongan dimulut sesaat. Manusia papua, suku Mee melanggar dari Filosofinya, kini terinveksi dengan berbagai virus yang dapat mematikan nyawa manusia papua terus meningkat.

Produk pemusnahan bermunculan berawal dari kaum muda-mudi, anak-nak sekolah minggu, pada usia dini. Setiap hari minggu itu, pergi ke-Gereja untuk memuji Tuhan sebagaimana dibiasakan bagi Umat Kristiani di Tanah papua, lebih khusus wilayah Meuwoodide. Kini usia muda, rajin bersekolah minggu, beradorasi dan aktif dalam berbagai kegiatan dari Gereja. Itu hal positif yang dilakukan oleh pemuda/i, baik yang denominasi gereja protestan maupun katolik. Namun nyatanya keaktifan dalam kegiatan pemuda/i itu proses kehancuran dengan adanya saling kontak mata si laki-laki dan si Perempuan itu. Mungkin tadinya, kita sudah diresapi dengan motivasi rohani tetapi keluar dari Gedung Gereja sudah berada di terninal. Proses saling kontak mata di Gereja tadi, sekarang saling bertemu kedua pasangan di pasar terminal. Hal apa yang akan dilakukan oleh si laki-laki dan si perempuan disana?

Sistem nepotisme juga dianggap sebagai penghancuran dan pemusnahan suku Mee, disebabkan keluarga yang punya profesi selalu mewariskan kepada kerabatnya, tanpa dipedulikan kepada sesama manusia, sesama suku yang ada disekitar kita. Misalnya, Keluarga dari marga Gobai menjadi kepala daerah, bawahannya juga ditempatkan semua marga gobai, sehingga tindakan dan semua kebijakan seperti itu dinyatakan ketidakadilan. Semestinya, Sistem kerja birokrasi itu bukan menjadi barang peninggalan, tetapi siapun berhak menduduki dan menikmatinya, entah keluarga kaya maupun miskin asal saling memenuhi kehidupan bersama, sambil melandasi filosofi suku Mee.

Sedangkan keluarga yang punya ekonomi lemah lari ke-kota untuk menghidupi keluarganya. Belum bisa diketahui, dia pergi ke-Kota untuk benar-benar mencari nafkah atau melakukan berbagai hal supaya mudah memenuhi dan mendapatkan nafkah melalui uang Rupiah. Kemudian semakin meningkatnya SDM ada banyak pengangguran mahasiswai/i dari kelurga ekonomi lemah hendak mendapatkan pekerjaan tetapi mereka belum bisa diterima sebagai CPNS, Karyawan Swasta dan lain-lain. Karena akibat dari sistem nepotisme sebagai faktor penghambat untuk mendapatkan pekerjaan bagi mereka yang dibilang ekonomi lemah selam ini.

Dapat simpulkan bahwa, kehidupan kita selama ini belum sepenuhnya, diterapkan makna dari filosofi hidup suku Mee yakni: Dou (Melihat), Gai (Berfikir) dan Ekowai (Melakukan/bertindak) di Wilayah Meepago. Walaupun kita mempunyai iman kristiani yang setinggi langitpun tidak ada gunanya, bila kita masih diperlakukan ketidakadilan seperti diuraikan diatas ini. Sangat menyedihkan suku Mee kini, kehilangan populasi semakin merosot tajam karena terjangkiti dengan berbagi penyakit yang tak dapat diobati di dunia ini. Meskipun hidup dan mati seseorang itu ada ditangan TUHAN tetapi kehilangan itu yang menyakitkan. Saat ini kita masih berada dibawa konteks kolonial tetapi lebih baik memosisikan diri untuk melawan dari Egoisme, Sistem Nepotisme dan keberpihakan kepada keluarga ekonomi lemah. (Admin/ AWEIDA)
Share this article :

.

.

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

JESUS IS MY WAY ALONG TIME

TRANSLATE

RENUNGAN HARIAN

VISITORS

Flag Counter

BIRD OF PARADISI

MELANESIA IS FASIFIC

MELANESIA IS FASIFIC

MUSIC

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD

FREEDOM FIGHTERS IN THE WORLD
 
Support : AWEIDA Website | AWEIDANEWS | GEEBADO
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2015. Aweida Papua - All Rights Reserved
Template Design by AWEIDA Website Published by ADMIN AWEIDA